NU Rekomendasikan MLM Haram, Ini Alasannya!

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA  Bisnis multi-level marketing (MLM) sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun, belakang ini bisnis direct selling ini tengah ramai diperbincangkan.  Hal itu lantaran, saat sidang Komisi Bahtsul Masail Waqiyyah di Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) 27 Februari lalu muncul sebuah rekomendasi bahwa bisnis MLM haram.

Anggota DSN MUI Moch Bukhori Muslim menjelaska bisnis MLM sama halnya dengan money game yang mengandung unsur manipulasi dan tidak transparan. Ada pihak yang dirugikan, mengandung kezaliman dan syaratnya menyalahi prinsip akad Islam, serta transaksinya berupa bonus bukan uang.

Lima alasan NU rekomendasikan bisnis MLM yakni :

1. Adanya uang pendaftaran atau dibarengi dengan pembelian produk yang menjadi syarat pula untuk mengikuti kegiatan bisnisnya serta dalam pencarian mitra. Dari pembelian barang itu, akan menghasilkan bonus atau komisi.

2. Adanya ketergantungan pada setoran dari member baru untuk survive dan untuk menguntungkan member lama.

3. Rancangan pemasarannya menghasilkan bonus atau komisi dan penghargaan lain berdasarkan dari kegiatan tertentu.

4. Produk yang diperdagangkan bisa didapatkan secara gratis atau lebih murah. Atau dalam kasus lain manfaat produk tidak sesuai dengan apa yang diiklankan.

5. Dalam bisnis MLM Piramida dan Matahari bonus merekrut anggota jauh lebih besar dibandingkan dengan bonus dari manfaat produk itu sendiri.

Sebelum NU mengeluarkan sejatinya Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa terkait MLM yang disebut sebagai pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS).

“Jadi MLM haram kalau ada lima hal, itu NU. Kalau kita MLM itu halal kalau memenuhi 13 syarat,” ujarnya dalam acara Dialog Interaktif MLM Itu Halal atau Haram di Jakarta, Selasa (12/3).

Bukhori menegaskan, sejatinya tidak ada yang berbeda fatwa DSN-MUI dengan hasil rekomendasi MUI. Bedanya hanya perbedaan pandangan perspektif.

Dia menjabarkan 13 syarat bagi MLM yang diperbolehkan (halal) sesuai dengan fatwa No: 75/DSN MUI/VII/2009 yang disahkan pada 25 Juli 2009. Pertama, ada obyek transaksi ril yang diperjualbelikan terdiri dari barang atau produk jasa. Lalu, barang atau produk jasa yang menawarkan barang yang diharamkan dan yang digunakan untuk digunakan sesuatu yang haram.

Ke tiga, transaksi dalam perdagangan tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat. Ke empat, tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (mark-up yang berlebihan)

Lalu, komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota, besaran maupun bentuknya harus berdasarkan prestasi kerja yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan produk, dan harus menjaga pendapatan utama mitra usaha. Termasuk bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota harus jelas jumlahnya, saat transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk yang ditetapkan perusahaan.

Kemudian, MLM juga tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang peroleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang atau jasa. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan oleh anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra.

Ke sembilan, tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antar anggota pertama dan anggota berikutnya. Lalu soal sistem perekrutan, bentuk penghargaan dana secara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan sebagainya.

Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan wajib membina dan mengawasi anggota yang direkrutnya. Tidak melakukan kegiatan money game. Dan terakhir, dalam penerapan Maqashid Syariah untuk melihat halal atau tidak, maka harus dilihat sejauh mana praktiknya setelah dikaji sesuai dengan ajaran agama syariat Islam.

Jadi tidak serta merta dilihat dari merk dan labelnya apakah berlabel syariah atau tidak, tetapi penting mengedepankan beberapa persyaratan yang sesuai dengan syariat islam agar tercapainya sebuah Mashlahat.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) Kany V. Soemantoro menjelaskan, pada dasarnya MLM dan money game memiliki perbedaan mendasar, yakni perdagangan dengan sistem keanggotaan. Hanya saja, yang membedakan adalah cara bonus yang diperoleh.

Untuk MLM bonus bisa didapatkan berdasarkan penjualan produk sedangkan money game berdasarkan perekrutan anggota baru. ”Bedanya MLM dengan money game, kalau MLM fokus pada produk jadi intinya penjualan barang. Kalau money game itu penjualan keanggotaan,” katanya.

Dia mengungkapkan, sistem menjual keanggotaan menyalahi aturan. Ia menjelaskan bahwa keuntungan dapat diperoleh bila anggota mampu menjual produk. ”MLM nggak membenarkan adanya bonus kalau ada rekrutmen. Jadi kalau ada rekrutmen dapat bonus itu salah, kecuali kalau jual produk baru dapat bonus,” tandasnya.

Sementara itu, untuk mengetahui perbedaan MLM dengan money game calon anggota harus menerapkan delapan pertanyaan pada perusahaan. Pertama apakah perusahaan memiliki legalitas yang valid, apakah ada produknya, apakah penekanan pada penjualan produk dan bukan peringkat.

Kemudian, apakah komisi dibayarkan sesuai penjualan produk dan bukan uang pendaftaran, apakah peserta masih bisa menghasilkan uang bila tak ada rekrutmen, apakah ada kebijakan pengembalian produk yang rasional.

Terakhir, apakah produk memiliki nilai pasar yang wajar, serta apakah ada alasan yang menarik untuk membeli produk tersebut.

8 Poin untuk memastikan apakah sebuah perusahaan penjualan langsung dapat dipercaya atau tidak :

1. Apakah legalitasnya valid? Cek SIUPL dan ijin edar produk (BPOM, Depkes, dsb).

2. Apakah ada produknya?

3. Apakah penekanan pada penjualan produk, bukan pada peringkat?

4. Apakah komisi dibayarkan berdasarkan penjualan produk dan bukan pada uang pendaftaran?

5. Apakah peserta masih bisa menghasilkan uang, jika rekrutmen dihentikan hari ini?

6. Apakah ada kebijakan pengembalian produk yang rasional?

7. Apakah produk memiliki nilai pasar yang wajar?

8. Apakah ada alasan yang menarik untuk membeli?

(dim)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...