Berperan Sebagai Pupuk dan Pestisida yang Ramah Lingkungan

Kamis, 14 Maret 2019 - 21:20 WIB

Pupuk dan pestisida sangat sulit dijumpai dalam satu paket. Meski begitu, bakteri Actinomycetes terbukti bisa menggabungkan kedua peran itu sekaligus.

IMAM RAHMANTO,
Makassar

Mesti telaten menguliti jaringan endofit tanaman. Berbagai sterilisasi menyertai proses yang melibatkan banyak perlengkapan laboratorium itu. Selanjutnya, jaringan digerus dan diencerkan agar menghasilkan bakteri yang dibutuhkannya; Actinomycetes.

Itu hanya secuil rangkaian pekerjaan yang mesti dilakoni peneliti asal Universitas Negeri Makassar (UNM), Alimuddin Ali. Pada hakikatnya, proses menumbuhkan bakteri mirip jamur itu butuh waktu yang sangat lama. Tak sesederhana kelihatannya.

Hanya untuk mendapati penampakan fisik mikroba itu, Alimuddin harus menghabiskan waktu di atas dua minggu. Ia sempat menunjukkan tabung labu Erlenmeyer tertutup yang berisi air keruh. Mikroba berwarna putih mengapung-apung di atas permukaannya. Penampakannya seperti jamur yang biasanya tumbuh di tempat-tempat lembap.

“Memang kelihatannya seperti jamur. Namun, sebenarnya mikroba ini adalah bakteri. Makanya, nama Actino masih menyandang label jamur, “Mycetes”, karena awalnya dikira jamur,” bebernya, di ruangan dengan kulkas yang dipenuhi tabung-tabung reaksi berisikan Actinomycetes, Selasa, 12 Maret.

Hanya saja, kata dia, bakteri di dalam tabung labu itu masih dalam bentuk fermentasi. Ia belum sempurna diekstrak menjadi senyawa. Pasalnya, waktu untuk mengekstrak senyawa Actinomycetes jauh lebih lama, bisa menyita waktu hingga berbulan-bulan. Sebuah botol kecil berisi senyawa juga ditunjukkan Alimuddin. Di dalamnya berisi senyawa yang sudah diketahui struktur kimianya.

Waktu yang sangat lama itu bukan persoalan baginya. Lantaran penerapan Actino terhadap kehidupan hayati benar-benar bermanfaat. Apalagi, bakteri tersebut sebenarnya mendominasi populasi dari mikroba tanah. Pernah mendengar bau tanah? Senyawa geomicin dari Actinomycetes lah yang dimaksudkan asosiasi itu.

Alimuddin sendiri sudah sering melibatkan mikroba yang disebut bakteri tanah itu dalam beberapa riset mengendalikan patogen tanaman. Hasilnya pun dianggap sangat memuaskan dan berpotensi diterapkan untuk tanaman-tanaman lainnya.

“Saya sudah pernah mengujicobakannya sebagai bio fertilizer (pupuk hayati) terhadap ubi kayu. Karena tanaman ini tergolong rakus hara tanah. Hasilnya, pertumbuhan ubi kayu mengalami peningkatan drastis,” jelas alumnus Unhas ini.

Formulasinya menggandeng Actinomycetes sebagai bagian paling integral. memadukan kemampuan dari Actinomycetes sebagai pelarut posfat, kalium, penghasil auksin IAA (Indole Acetic Acid). Zat tersebut menjadi pengatur tumbuh tanaman khususnya fase pertumbuhan vegetatif tanaman.

Tak berhenti di ubi kayu. Riset serupa ditorehkan Alimuddin untuk tanaman lainnya, yakni bawang merah. Tujuan awalnya untuk membasmi jamur patogen akar yang menyebabkan pembusukan pada tanaman bumbu dapur itu. Formulasinya juga ternyata menjadi salah satu kunci pestisida alami dan ramah lingkungan.

Yang menarik, karena Actino ini memang selain menghasilkan zat pengatur tumbuh (auksin), juga menghasilkan senyawa yang membunuh patogen. Dibandingkan bakteri lainnya, Actino juga bisa bertahan dalam kondisi paling ekstrem, sekalipun dengan nutrisi minim. Sementara mikroba lain tidak bisa seperti itu,” papar lelaki yang memperoleh gelar doktornya ini dari Program Studi Bioteknologi Universitas Gadjah Mada.

Hal itu membuat mikroba Actinomycetes bisa berperan ganda, yakni sebagai pupuk maupun pestisida. Ia menghasilkan auksin untuk mendorong pertumbuhan tanaman. Di sisi lain, formulasinya bisa menangkal beberapa hama atau jamur yang biasanya mengganggu pertumbuhan tanaman.

“Sebenarnya memang seperti itu. Tapi, riset secara mendalam untuk menghasilkan produk itu belum saya lakukan. Sebatas beberapa tanaman yang divaksinasi untuk melihat efeknya,” ungkap peneliti yang juga sudah meriset metode vaksinasi tanaman markisa ungu dari pengaruh hama fusarium oxysporium.

Selama satu dekade Alimuddin menggeluti bakteri itu, karakteristiknya memang cukup unik. Berbagai riset sudah dijalankan beberapa mahasiswa bimbingannya melalui Actinomyscetes itu. Bahkan, Alimuddin sendiri telah memenangkan proposal penelitian dari dari Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) karena pengembangan bakteri itu, tahun ini. (mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *