Debat Pilpres ke-1 dan 2 Mirip Cerdas Cermat, Ini Usulan Fahri Hamzah Buat KPU

Kamis, 14 Maret 2019 - 20:44 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Debat Pilpres pertama dan kedua diklaim belum sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia. Hal itu tak lepas dari sistim debat yang diterapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), dengan membocorkan soal kepada para Capres dan Cawapres.

Atas cara itu, debat yang diinginkan berkualitas, terlihat seperti lomba cerdas cermat tingkat SMA. Wakil Ketua DPR-RI, Fahri Hamzah mengatakan, ada reduksi terhadap keinginan hati rakyat untuk mengetahui apa yang ada didalam pikiran setiap kandidat presiden saat debat berlangsung.

Menurut Fahri, debat pilpres itu juga layaknya kegiatan Kelompencapir atau kelompok pendengaran, pembaca dan pemirsa. “Karena KPU bikin soal, lalu kemudian dikasih ke staf untuk menentukan jawaban. lantas jawabannya itu dihapal oleh setiap paslon,” kata Fahri dalam diskusi dialektika demokrasi ‘Menakar Efektivitas Debat Capres Dalam Meraih Suara’ di Gedung Nusantara III, Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis, (14/3).

Sejatinya menurut Fahri, debat Pilpres tersebut adalah momentum bagi rakyat untuk mengetahui siapa calon Presiden yang akan dipilih pada 17 April 2019 mendatang.

Fahri pun mengusulkan agar pada debat ketiga yang akan digelar di Hotel Sultan pada 17 Maret 2019, tak ada lagi bocoran jawaban yang disodorkan oleh KPU. Sehingga, di debat ketiga nantinya ada perdebatan substantif antara dua cawapres tersebut.

“Saya minta penyelenggara pemilu memberikan kesempatan kepada para kandidat untuk saling bertanya sedalam-dalam tentang isu persoalan bangsa Indonesia ini kedepanya,” tandas Fahri.

Senada dengan Fahri, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDI-P) Eriko Sotarduga yang menyebut debat Capres-cawapres pilpres itu seperti ajang cerdas-cermat tingkat Sekolah Dasar (SD). “Ini debat pemimpin bangsa lho, bukan seperti itu,” ujarnya.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi- Ma’aruf itu menilai debat pertama dan kedua tidak substantif, karena setiap paslon tidak menjawab tantangan dan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Untuk itu, Eriko berharap debat ketiga yang akan diikuti oleh dua cawapres Ma’aruf Amin dan Sandiaga Uno dengan tema pendidikan kesehatan ketenagakerjaan sosial dan budaya itu KPU memberikan kebebasan penuh berdebat antara kedua cawapres tersebut, sehingga tidak lagi seperti cerdas cermat.

“Sekali lagi ini pesta demokrasi yang ditunggu rakyat 5 tahunan. Sajikan sesuatu yang menarik, karena rakyatlah yang menentukan calon pilihannya pada 17 April mendatang,” pungkas Eriko Sotarduga. (RBA/Fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.