Disarankan Lepas Simbol Ulama, TKN: Itu Bukan Tempelan

Jumat, 15 Maret 2019 - 09:53 WIB

FAJAR.CO.ID–Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo – Ma’ruf Amin (TKN Jokowi – Ma’ruf), Abdul Kadir Karding menilai sulit melepas simbol ulama dari calon wakil presiden 01 itu.

Itu disampaikan Karding menanggapi saran pengamat politik yang menilai debat antara Sandiaga Uno tak seimbang dengan KH Ma’ruf karena simbol keulamaannya.

“Ulama itu gelar bukan dari siapa-siapa, tetapi dari rakyat, dari umat. Sementara yang disebut alim adalah orang yang pintar. Orang yang memahami ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu yang bagus. Itu makanya disebut alim ulama,” kata Karding.

Oleh karena itu, politikus PKB ini meyakini keulamaan itu tidak bisa dipisahkan dari seseorang. Hal itu karena perilaku, kealiman, keilmuan dan ketokohannya sudah melekat pada KH Ma’ruf. “Itu bukan barang tempelan. Bagaimana melepasnya?” tanya Karding.

Meski begitu, Karding menyarankan Sandi tak usah sungkan berdebat dengan ketua umum Majelis Ulama Indonesia itu. Sebab, kata Karding, Ma’ruf sendiri sudah biasa didebat oleh semua orang di lingkungan NU. “Pak Sandi tentu tahu mana yang mesti didebat, mana yang tidak. Namanya debat bolehlah, debat saja,” tandas dia.

Sebelumnya, pengamat politik dari Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi), Hendri Satrio menyebut, saat debat mendatang, Ma’ruf perlu memberitahukan ke publik dirinya bukan sebagai ulama.

‎”Jadi ini kali pertama kita menyaksikan Kiai Ma’ruf dan Sandiaga head to head. Tapi kita saksikan hari ini adalah Kiai Ma’ruf ini kan masih menggunakan jaket ulama. Masih jadi Ketua MUI. Kalau sepengetahuan saya, ulama itu tidak boleh didebat,” ujar Hendri dalam sebuah diskusi di kawasan Gambir, Jakarta, Kamis, (14/3/2019).

Akademisi dari Universitas Paramadina ini mengatakan, ulama levelnya di atas orang biasa. Karena dia teladan, guru, dan tokoh agama. Sehingga dia menilai apabila Ma’ruf tidak memberitakan ke publik dalam debat itu dirinya bukan ulama. Maka pertarungan antar cawapres menjadi tidak imbang.

“Kalau misalnya debatnya antara kiai Ma’ruf sebagai ulama melawan Sandiaga Uno sebagai politikus, ini enggak imbang,” katanya.

Sehingga, supaya lebih fair, Ma’ruf Amin perlu melepaskan jaket ulamanya. ‎Masyarakat pun bakal menyaksikan pertarungan yang seru antar dua cawapres dari 01 dan 02.

Hendri mencontohkan, apabila Sandi mengkritik ataupun memberikan pertanyaan jebakan ke Ma’ruf Amin dalam debat ketiga. Maka kemungkinan muncul persepsi publik yang “nyinyir” kepada Sandi tidak hormat kepada ulama atau kiai. “Tapi kalau debatnya antara politisi itu akan beda sekali. Saya kira Kiai Ma’ruf harusnya mengamini usulan kami ini,” pungkasnya.

Adapun debat ketiga akan mengundang para cawapres, Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, untuk mengelaborasi tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya.

Debat ketiga akan diselenggarakan pada 17 Maret 2019 dan disiarkan jaringan televisi milik Chairul Tanjung, yaitu Trans TV, Trans 7, dan CNN Indonesia. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *