Proyek Senilai Rp701 miliar di Wajo Tersandera Banyak Masalah

4 days ago

FAJAR.CO.ID, SENGKANG — Pengerjaan konstruksi atau fisik Bendungan Paselloreng di Desa Arajang Kecamatan Gilireng Wajo telah selesai. Hanya saja, pengoperasiannya tersandera dengan berbagai permasalahan.

Itu terungkap dalam rapat koordinasi konsultasi terkait Percepatan Pengadaan Tanah Pembangunan Bendungan Paselloreng, yang dilaksanakan di ruang rapat Kantor Bupati Wajo, Kamis, 14 Maret 2019.

PPK Bendungan II Paselloreng, Iskandar Rahim mengatakan, proyek yang dilaksanakan PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk – PT. Bumi Karsa KSO dengan nilai kontrak Rp701 miliar itu, pengerjaan konstruksi atau fisiknya menghampiri kata rampung.

“Progres pelaksanaan Bendungan Paselloreng hingga Maret 2019 ini. Untuk terhadap kontrak addendum 8, realisasi fisik 93,97 persen keuangan 90,52 persen. Sementara rencana kita fisik 96,92 persen keuangan 96,83 persen,” ujarnya.

Iskandar pun merincikan, pelaksanaan fisik proyek yang mulai dilaksanakan Juni 2015 lalu itu. Misalnya, progres bangunan pengelak sudah 98,32 persen, pekerjaan hidromekanikal 85,89 persen, bangunan pelimpah 99,78 persen, bangunan pengambilan 73,70 persen, bendungan utama 88,27 persen, dan bendungan pelana 93,87 persen.

“Sebenarnya Bendungan Paselloreng sudah bisa difungsikan dengan pengisian waduk. Namun tidak dapat diisi karena banyaknya masalah pengadaan tanah dengan berbagai sebab,” akuinya.

Polemik yang dimaksud. Diantaranya, area genangan masuk kawasan hutan seluas 102 Ha, area greenbelt masuk kawasan hutan seluas 263,98 Ha, pembebasan lahan seluas 73,54 Ha atau 181 bidang tanah belum lengkap pemberkasan 18,15 Ha atau 49 bidang tanah belum diukur, hingga masih adanya aset Pemkab Wajo masih proses hibah dan aset desa masih proses verifikasi wakaf.

“Masalah yang paling besar kita hadapi 18,15 Ha tanah belum diukur yang merupakan persawahan warga. Sementara kita rencanakan awal pengisian waduk saat musim kemarau menuju musim hujan sekitar April mendatang,” sebutnya.

Rencana awal pengisian waduk itu dilakukan dengan empat tahap. Tahap pertama dari elevasi dasar sungai +20.00 sampai +35.00, kedua dari elevasi +35.00 sampai +50.50, ketiga elevasi +50.50 turun ke +35.00, keempat elevasi +35.00 ke puncak muka air normal +50.50.

“Jadi kalau 18,15 Ha sawah warga belum dibebaskan sampai rencana awal pengisian waduk. Maka sawah itu akan tenggelam. Ini yang sangat kita takutkan, bisa menimbulkan permasalahan besar dengan masyarakat,” terangnya.

Begitu juga dengan aset tersebut. Yakin, pasar paselloreng, kantor desa paselloreng, tanah bangunan pustu paselloreng, tanah bangunan pendidikan SDN 197 dan SDN 238, saran olahraga sepakbola dan tempat ibadah masjid.

“Kita ingin secepatnya sekolah itu dirobohkan. Semoga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) segera merelokasikan murid sekolah itu. Apalagi titik tersebut sudah dibebaskan,” pintanya.

Iskandar berharap Bupati Wajo Amran Mahmud ikut berperan mengatasi semua masalah dihadapinya itu. Sebab awal pengisian waduk harus dilakukan sebelum masa kontrak Bendungan Paselloreng berakhir per 1 Juli 2019 mendatang.

“Bendungan Paselloreng memiliki banyak PR. Kita harapkan ini dihadapi bersama-sama. Utamanya membutuhkan sentuhan Pak Bupati Wajo,” harapnya. (man)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *