Selamat Jalan Prof. Lawa

0 Komentar

Suharman Hamzah,
Dosen Departemen Teknik Sipil
Direktur Komunikasi/Sekretaris Rektor
Universitas Hasanuddin

 

Kabar tak mengenakkan datang ba’da Isya hari Jumat (15 Maret). Berita yang sepertinya bukan sesuatu yang “layak” dipercaya. Setelah konfirmasi sana-sini, kabar itu benar adanya. Innalillahi wainna ilayhi raji’un, salah satu putra terbaik Unhas itu telah berpulang ke rahmatullah.

Prof. Dr. Ir. H. Lawalenna Samang, MS., MEng., sang putra terbaik Unhas itu. Lahir di Empagae, Sidrap 31 Desember 1960.

Menghabiskan masa kecil, pendidikan dasar dan menengah di pangkajene Sidrap. Melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar insinyur sebagai lulusan terbaik di angkatan nya di Jurusan Teknik Sipil Unhas. Memulai pengabdian sebagai dosen di almamaternya setelah menyelesaikan pendidikan insinyur di Unhas sejak 34 tahun yang lalu. Gelar magister pengembangan wilayah diraih di Unhas tahun 1991. Kembali “mengulang” pendidikan S2 di Saga University Jepang hingga kemudian memperoleh gelar Doktor, juga di Saga University tahun 1997. Menyempurnakan ikhtiar perjalanan akademiknya dengan mendapatkan kepercayaan menyandang guru besar sejak 1 November 2005.

Professor bidang Geoteknik di Departemen Teknik Sipil Unhas ini pernah menjadi Ketua Jurusan 2 periode (2002-2006 dan 2010-2014) dan Kepala Laboratorium Mekanika Tanah (1997-2003). Pengalaman organisasi profesinya cukup komplit. Sampai saat ini masih menjabat Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Sulsel, Ketua Ikatan Ahli Teknik Penyehatan Indonesia (IATPI) Sulsel, Wakil Ketua Himpunan Ahli Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sulsel, anggota Dewan Pakar MTI dan MASKA Sulsel. Selain itu, pernah menjabat Sekjen Badan Musyawarah Pendidikan Teknik Sipil Seluruh Indonesia (Bamus PTTSSI) tahun 2010-2014.

“Pekerja keras, santun, setia kawan dan menyayangi keluarga ” adalah tipikal kehidupan pribadi, kiprah dan langkahnya bersama keluarga. Menikah dengan Dr. Nurjannah Hamid, M.Agr., dosen di Departemen Manajemen Unhas. Anak pertamanya dr. Nirwana, PhD yang baru saja mengikuti jejak bapaknya menjadi dosen di Unhas. Anak kedua, direncanakan akan wisuda S3 tahun ini di Inggris serta si bungsu yang masih kuliah S1 di Unhas mengikuti jejak ibunya.

Pekerja keras adalah karakter khasnya. Dari interaksi saya dengan beliau serta dari teman-teman akrabnya, Prof. Lawa, nama panggilannya yang singkat, adalah nama yang menjadi “legenda” di sekitar ajatappareng sejak kecil. Kepintarannya diakui dan menjadi cerita hingga kini. Kecintaannya pada profesi terkait teknik sipil khususnya geoteknik membuatnya melanglangbuana ke pelosok Indonesia dengan proyek-proyek yang berhubungan dengan pondasi dan masalah tanah. Beliau serasa tak kenal lelah kalau sudah bicara masalah geoteknik. Mahasiswa bimbingannya pasti pernah merasakan bagaimana “kedalaman ilmu”nya hingga konsultasi bisa sampai larut malam.

Pengalaman saya berinteraksi dengan sosok murah senyum ini bermula sejak saya masih mahasiswa di tahun 1997 sesaat setelah beliau pulang dari Jepang. Ingatan saya selalu tertuju pada satu hal: “ada dosen baru pulang dari Jepang dan orangnya sangat pintar”. Sebagai mahasiswa tentu saja jadi antusias siapa gerangan beliau?, Ketika tiba saatnya mata kuliah baru “pemrograman komputer” harus kami ambil, maka bertemulah dengan beliau di ruang kelas. Di pertemuan pertama itu, langsung membuat satu kelas jadi “schok”. Kami yang baru belajar pemrograman ‘Under Dos’ tiba-tiba diminta beliau belajar “Macintosh”, silahkan di cek di google apa itu Macintosh? hehe.

Kami seperti masuk di hutan belantara karena buku-buku saat itu belum ada sama sekali terkait hal tersebut (setidaknya di Indonesia) dan ingat ini di tahun 1997 internet dan google belum jadi “kebutuhan utama”. Namun kekhawatiran itu ditepis beliau dengan telaten mengajari kami di ruang kelas khusus terkait Macintosh itu. Setelah lulus S1, kami jadi bisa bangga juga. Iyya itu tadi, minimal sudah bisa “menjual diri” di CV dengan kalimat “memahami Macintosh” yang saat itu masih belum bamyak orang yang mendalami, hehe.

Karakter santunnya mulai saya rasakan sejak menjadi dosen. Apalagi saat saya diminta oleh beliau untuk menjadi Sekretaris Jurusan (bidang kemahasiswaan) di periode pertamanya menjadi Kajur. Ada sapaan khasnya yang sampai terakhir ketemu beliau masih diucapkan. “Bagaimana Kabar Anak Muda”?, kalimat yang sangat sering diucapkan kepada siapapun dosen-dosen muda yang cukup dekat dengannya. Ada rasa “mengayomi” yang lekat dengan sapaan khas itu. Di balik sosoknya yang santun itu, jangan salah sangka. Beliau adalah orang yang sangat detail.

Kami biasa berdiskusi panjang untuk satu hal yang kadang menurut saya sebenarnya sangat sederhana. Tapi itulah beliau, konsisten dengan keyakinannya. Namun bila sudah diputuskan, kalimat santunnya kembali akan keluar “Anak muda saja yang urus, kita tunggu saja hasilnya”. Terkesan berbelit karena detail (bagi orang yang baru berinteraksi dengannya) tapi percaya pada proses yang berjalan dan menikmati hasil akhir adalah hal yang melekat erat pada dirinya.

Setia Kawan, satu sifatnya yang tak bisa terlupakan. Silahkan “tanya-silang” staf dosen dan tendik yang pernah dan sedang bekerja di Departemen Teknik Sipil.

Bagi yang sudah dianggapnya sahabat, beliau akan “mati-matian” membantu sampai tuntas. Ringan tangan dalam membantu baik yang senior maupun yunior. Sangat dermawan termasuk dalam urusan “kampung tengah”. Bekerja bersama dalam kamus beliau berarti harus 100% didukung. Kocek pribadinya tak segan dirogoh untuk kepentingan institusi khususnya departemen. Ada guyonan kami dulu kalau ada kerjaan terkait borang, proposal dsb. “Ada ji Prof Lawa datang”? Kalau beliau mengiyakan datang itu berarti kita “merasa aman” karena dukungan makanan dsb pasti banyak, hehe. Satu hal lain yang perlu diketahui dari beliau adalah susah berkata tidak untuk satu hal tertentu. Tapi kita bisa tahu kalau beliau sebenarnya tidak setuju. “Ya, sudahlah”, kalimat yang sangat tidak ingin mengecewakan orang lain sebagai bukti rasa setia kawannya.

Selain setia kawan, beliau adalah pribadi yang sangat menyayangi keluarga. Selalu ada waktu yang dialokasikan untuk istri dan anak-anaknya. Sangat sering bertemu beliau dengan keluarganya di mal, restauran dan tempat makan yang lain. Semenjak anak-anaknya sudah “sibuk” dengan urusan kuliah, Prof Lawa dan Bu Nunung (sapaan akrab istrinya) masih sering jalan berdua untuk makan dan “cuci mata” di mal. Itu kebiasaan dari dulu hingga di penghujung hidupnya. Ada satu hal yang sering sekali saya tanyakan kepada beliau hingga akhir hayatnya. “Kapan ki pengukuhan GB Prof”?, dijawabnya “santai mi saja pak Suhe”. Namun akhirnya beliau jawab juga pada suatu waktu. Beliau bilang “Saya mau pengukuhan GB nanti bersama dengan Ibu Nunung”. Pengusulan GB Ibu Nunung telah berproses juga. Sayangnya niat itu tidak kesampaian hingga kini. Sedih rasanya karena saya pribadi pernah berjanji untuk membantu kalau acara itu tiba waktunya.

Mari kita doakan Ibu Nunung segera menjadi GB. Aamiin.

Allah SWT yang punya kuasa atas apapun yang kita miliki. Bagi saya dan teman kolega di departemen, beliau adalah sosok “paripurna” dalam menjalankan kewajiban. Jumat kemarin itu (15 Maret), pagi sampai siang-sore beliau masih mengajar dan melayani konsultasi mahasiswa. Bahkan ada 1 orang mahasiswa S3 yang masih sempat dapat tandatangan persetujuan ujian. Setelah itu janjian dengan Bu Nunung untuk makan malam bersama di mal. Namun sebelum bertemu istrinya di tempat janjian, beliau mengalami “serangan jantung” di parkiran sebuah mal di Makassar. Nyawanya tak tertolong meski sempat dilarikan ke RS Grestelina.

Selamat Jalan Prof. Lawalenna Samang. Semoga beliau husnul khotimah. Insha Allah ditempatkan di Jannatul Firdaus. Aamiin.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...