Hendi Minta Kader PKK Berpartisipasi Mengentaskan Sejumlah Persoalan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Tingginya peran serta kaum perempuan di Kota Semarang dalam pembangunan menunjukkan adanya kesetaraan gender yang semakin meningkat.

Tidak hanya para akademisi, pengusaha dan tokoh masyarakat, Walikota Semarang Hendrar Prihadi juga selalu menggandeng Tim Penggerak PKK untuk terlibat dalam mengatasi berbagai persoalan pembangunan. Hasilnya banyak persoalan krusial di kota lunpia ini yang berhasil ditangani oleh Tim Penggerak PKK.

Hal tersebut disampaikan Hendi, sapaan akrab walikota saat memberikan pengarahan di depan kader PKK Kota Semarang, Senin (18/3). Hendi juga mengapresiasi besarnya peran wanita dalam pembangunan khususnya di Kota Semarang.

Menurutnya, secara kelembagaan Pemerintah Kota Semarang tidak lagi memunculkan bias gender. Buktinya selain dengan mengangkat sosok wanita sebagai wakil walikota dalam kepemimpinannya, dirinya juga menjadikan wanita untuk memimpin sejumlah Organisasi Perangkat Daerah seperti Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, RSUD dan dua Asisten di lingkungan Sekretariat Daerah.

Oleh karenanya, orang nomor satu di Kota Semarang tersebut meminta para kader PKK untuk terus berpartisipasi dalam mengentaskan sejumlah persoalan.

“Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Untuk itu kita harus selangkah lebih maju dibanding dengan kota atau kabupaten lain. Namun saat ini kondisinya kita masih dihadapkan dengan sejumlah problematika seperti kasus Demam Berdarah, HIV, dan kondisi mental generasi muda,” ujarnya.

Tercatat di tahun 2009 hingga tahun 2010, dalam catatan angka demam berdarah Kota Semarang selalu menduduki peringkat pertama bahkan pernah mencapai 3.000 kasus per tahun.

Kondisi tersebut memunculkan komitmen Kepala Dinas Kesehatan untuk memberantas Demam Berdarah bersama dengan ibu-ibu PKK sebagai Kader penggerak melalui Petugas Surveilans Kesehatan (Gasurkes) seluruh wilayah kelurahan di Kota Semarang dalam upaya menekan angka kejadian demam berdarah dan angka kematian ibu.

Hendi melanjutkan, upaya tersebut berangsur berhasil. Sejak tahun 2013 jumlah kasus demam berdarah sebanyak 2.364 kasus yang kemudian terus menurun hingga angka 50 kasus saja di tahun 2018.

Selain itu, Hendi juga mempersoalkan tingginya penderita HIV/AIDS di Kota Semarang. Dari data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, dalam periode Januari-November 2018 terdapat 546 temuan kasus penderita HIV/Aids. Bahkan per bulan Maret 2019, DKK mencatat adanya 125 penderita baru di Kota Semarang.

Menurut Hendi, tingginya kasus HIV/AIDS yang ditemukan ini akan berpotensi dengan persoalan seksual lainnya. Selain itu adanya sejumlah kasus yang berkaitan dengan tindak kriminal yang dilakukan oleh generasi muda juga tidak luput dari perhatian walikota.

“Tolong dipahami lingkungan luar itu tidak bisa kita kontrol. Bahkan terkadang penyebab dari seorang anak melakukan tindak kriminal adalah lantaran tertantang agar tidak diremehkan,” tegas Hendi.

“Pernah saya mendatangi pelaku perampasan motor, pelakunya bocah usia 15 tahun. Setelah saya tanya penyebabnya karena ia ditantang untuk merampas motor. Juga kasus pembacokan, dirinya melakukan hal itu agar dianggap gagah oleh rekan-rekannya,” tambahnya.

Untuk itu Walikota yang juga politisi PDI Perjuangan tersebut berpesan kepada para kader PKK untuk bergerak bersama mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut dengan cara menjaga putra-putrinya, berikan perhatian, monitor, bahkan sekadar mengajak ngobrol mereka terkait kegiatan sehari-hari.

Terakhir, dalam kesempatan itu Hendi juga mengingatkan terkait partisipasi PKK untuk mensukseskan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 17 April 2019 mendatang. (sen)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment