Mayoritas Anak Indonesia Mengalami Sakit Gigi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Hasil survei global yang dilakukan Pepsodent tahun 2018 lalu di delapan negara yaitu Chili, Mesir, Perancis, Italia, Indonesia, Amerika Serikat, Ghana dan Vietnam melibatkan 4.094 anak berusia 6-17 tahun beserta orangtua mereka. Di Indonesia sendiri survei dilakukan pada 506 anak.

Hasil utama survei ini adalah banyaknya anak Indonesia yang mengalami keluhan sakit gigi selama satu tahun terakhir yaitu sebesar 64%, dimana 41% dari mereka menyatakan bahwa intensitas rasa sakitnya mencapai tingkat sedang hingga berat.

“Masalah ini ternyata menyebabkan mereka menemui banyak kesulitan di sekolah, baik dalam meraih prestasi akademis maupun bersosialisasi,” kata drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc. selaku Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia pada peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2019 di SD Negeri Gunung 01, Jakarta, Rabu (20/3).

Akibat sakit gigi, 37% anak mengaku harus absen dari sekolah dengan jumlah absen rata-rata dua hari per anak dalam setahun. Rasa sakit pun menyebabkan 29% dari anak-anak tersebut mengalami gangguan tidur sehingga terpaksa harus sekolah dalam keadaan mengantuk.

Didapati pula sebagian besar dari mereka sulit berkonsentrasi dan tidak bisa turut aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, akhirnya kemampuan mereka untuk menyerap materi pelajaran menjadi sangat terganggu.

“Anak-anak yang bermasalah dengan gigi dan mulut cenderung dua kali lebih rentan untuk mengalami krisis kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi bahkan menolak untuk memperlihatkan senyum mereka dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki gigi dan mulut yang sehat,” lanjut drg. Mirah.

Fakta ini ditanggapi Ayoe Sutomo, seorang psikolog anak dan keluarga. Dikatakan, dalam menemukan rasa percaya diri ada beberapa komponen yang saling mendukung, diantaranya adalah rasa nyaman terhadap diri sendiri yang menimbulkan perasaan positif serta membuat diri merasa berharga, atau biasa disebut dengan self-esteem.

“Kebiasaan hidup sehat, termasuk merawat kesehatan gigi, merupakan salah satu hal yang mendukung anak untuk memiliki self-esteem yang baik, karena dengan kebiasaan ini maka anak akan mendapatkan feedback positif dari lingkungan yang membuatnya merasa nyaman sehingga ia akan lebih mudah memiliki pandangan atau konsep yang positif terhadap dirinya,” jelas Ayoe.

Pada akhirnya, seorang anak akan punya keyakinan dan rasa percaya diri untuk melakukan banyak hal dan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Apalagi saat ini anak tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan secara akademis namun juga kecerdasan interpersonal, yaitu bagaimana ia mampu bersosialisasi dan berkolaborasi dengan orang lain. “Tentunya keduanya membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi,” tambahnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment