Tahun Lalu BTN Karimunjawa Tutup Wisata Hiu, Ini Penyebabnya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JEPARA – Sebelum mencuat kasus matinya puluhan hiu di penangkaran Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa, lokasi itu memang telah berkurang pengunjungnya. Hal ini lantaran pihak Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa melakukan penutupan aktivitas wisata ke tempat tersebut pada Juni 2018 lalu.

Sebelum dilakukan penutupan oleh pihak BTN Karimunjawa, lokasi itu menawarkan atraksi wisata berenang dengan ikan hiu. Pengunjung bisa berenang hingga berfoto bersama hiu-hiu jinak di kolam tersebut.

Biro-biro wisata Karimunjawa juga menawarkan kolam penangkaran hiu Pulau Menjangan Besar dalam paket tour laut. Lokasi tersebut menjadi favorit selain aktivitas snorkeling dan diving yang biasanya dilakukan di lautan Karimunjawa.

Kepala BTN Karimunjawa Agus Prabowo, mengatakan, kolam tersebut pada mulanya adalah keramba untuk budidaya ikan seperti jenis kerapu, badong, dan lainnya. Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Karimunjawa, keramba tersebut menjadi destinasi dan atraksi wisata yang diminati wisatawan. ”Keramba kemudian dipugar menjadi kolam pemeliharaan sekaligus untuk kegiatan wisata,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Agus melanjutkan, pihaknya menilai aktivitas wisata di lokasi tersebut tidak dilengkapi perizinan sebagaimana mestinya. Bahkan sempat pula ada korban. ”Pada 13 Maret 2016 seorang pengunjung asal Jogjakarta terluka akibat digigit hiu saat berenang,” ujarnya.

Karena itulah pada 8 Juni 2018 melalui surat kepala BTN diperintahkan pada pemilik penangkaran hiu untuk menghentikan kegiatan wisata alam di lokasi tersebut. ”BTN Karimunjawa juga telah berkoordinasi dengan Pemkab Jepara dan menegaskan kembali kebijakan penghentian kegiatan wisata hiu tersebut.

Hal ini juga dikatakan Djati Utomo, salah satu pengelola biro perjalanan wisata ke Karimunjawa. Dia menyatakan, sejak ditutup 2018 lalu, pihaknya sudah tak lagi membawa wisatawan untuk berkunjung ke sana. ”Memang sudah lama tidak ke sana, sejak ditutup,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan pengelola biro perjalanan wisata ke Karimunjawa lain, Hasanuddin. Dia menuturkan, sudah dua tahun terakhir atraksi wisata berenang bersama hiu tak dimasukkan dalam tour laut para wisatawan.

”Lokasi itu kami lewati. Selanjutnya kami ganti dengan wisata di lokasi-lokasi lain di Karimunjawa. Saat ini lokasi menarik kan tidak hanya di pulau-pulaunya. Namun di daratan Karimunjawa juga sudah banyak dibuka lokasi yang menarik,” ujarnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara Zamroni Lestiaza, mengatakan, penangkaran hiu di Kepulauan Karimunjawa memang salah satu menjadi destinasi wisata yang sebelumnya banyak dikunjungi. Hal ini karena di sana ada atraksi unik yang jarang ditemui di tempat lain. ” Lokasi itu menjadi salah satu tujuan wisata dan sudah banyak dikenal wisatawan,” katanya.

Namun, mengenai legalitas penangkaran hiu itu, pihaknya tidak mengetahui secara pasti dan masih menjadi pertanyaan. ”Tapi yang jelas pihak BTN Karimunjawa melakukan penutupan lokasi itu untuk aktivitas wisata,” jelasnya.

Zamroni tak memungkiri kadangkala antara pariwisata dan lingkungan memang bertolak belakang. ”Karena itu segala sesuatunya harus disikapi dengan bijak,” terangnya.

Dengan adanya kasus hiu-hiu mati di penangkaran Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa, itu, pihaknya menilai sudah waktunya dikaji kembali. ”Penyebabnya (matinya puluhan hiu, Red) juga belum jelas. Apakah karena siklus airnya atau karena apa. Mengelola hiu tentunya susah dan memerlukan treatment khusus,” tuturnya.

Sementara disinggung mengenai dampak untuk pariwisata di Karimunjawa, Zamroni mengaku, secara umum dampaknya tidak terasa signifikan. Sebab, ketika datang ke Karimunjawa wisatawan bisa secara langsung melihat biota laut di lokasi-lokasi lain. ”Masih banyak lokasi wisata lain yang menarik. Termasuk melihat biota laut di lokasi lain,” imbuhnya.

(ks/emy/lin/top/JPR/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar