Di Tangan Istri Muda, Tentara Ini Justru Menderita

Senin, 25 Maret 2019 - 07:37 WIB

FAJAR.CO.ID–Banyak perempuan mata duitan memilih menikah demi mengejar harta. Karin, bukan nama sebenarnya salah satunya.

Wanita 26 tahun itu mau dinikahi pria yang secara fisik tak sempurna demi memoroti kekayaan suaminya. Sebut saja namanya, Abdullah yang 9 tahun lebih tua. Sampai saat ini, Abdullah masih mangkel terhadap Karin.

Bisa dibilang Karin ini memang nekat. Dia kabur membawa uang hasil menjual sertifikat rumah. “Goblok. Rumah bagus kok dijual murah. Harganya waktu dibeli saja selangit,” kata Abdullah di sela-sela sidang cerainya di Pengadilan Agama Kelas IA Surabaya pekan lalu.

Profesi Abdullah adalah tentara. Saat menikahi Karin, dia dalam kondisi kurang sempurna secara fisik akibat kecelakaan lima tahun lalu.

Awalnya dia erasa beruntung masih ada perempuan muda dan cantik yang mau dengannya. Sayangnya, Karin ternyata hanya mengejar hartanya. Semula Abdullah memang tak menyadari gelagat Karin. Sebab, pada awal-awal rumah tangganya memang baik-baik saja.

Namun, belakangan Karin kerap memaksa Abdullah menjual rumah-rumah miliknya yang bertebaran di berbagai lokasi. Dia memang rajin berinvestasi melalui properti.

Alasan Karin mendorong Abdullah melego rumahnya pun sangat klise. “Katanya daripada rusak nganggur mending dijual untuk modal usaha,” tuturnya menirukan ucapan Karin. Hanya saja Abdullah tak serta-merta menggubris istrinya. “Enggak logis blas. Ya gak tak turuti,” tuturnya.

Namun untuk rumah yang satu itu, Abdullah rela mengabulkan keinginan Karin. Sebab, Karin mengancam-ancam minta cerai kalau keinginannya tak dituruti.

Karena Abdullah belum siap menduda, akhirnya dia melego salah satu rumahnya. Untuk urusan deal harga, dia menyerahkannya kepada Karin.

Sementara soal uang hasil penjualan langsung ditransfer ke rekening Abdullah. Hanya saja, Karin memang memegang kartu ATM milik dia.

Begitu pembeli rumah mentransfer uang ke rekening Abdullah, Karin mulai menguras duit suaminya. Karin langsung kabur dengan menggondol seluruh tabungan yang tersisa di rekening.

Di situlah ubun-ubun Abdullah memanas. Rasa-rasanya dia pengin melaporkan Karin ke polisi saja. Masalahnya, rumah yang baru dijual itu masih adalah hasil Abdullah menggadaikan surat keputusan (SK) pengangkatannya. Dia pun belum melunasi cicilan pinjaman untuk membeli rumah itu. “Angsurane durung mari, duwite wes mabur (angsuran belum kelar, uangnya sudah terbang, red),” keluhnya.

Namun, Abdullah tak menyerah. Dia berkali-kali mencoba menghubungi Karin. Bukan agar Karin kembali ke rumah, tetapi demi berbicara untuk mencari kompromi.

Abdullah sudah ikhlas jika Karin tak setia lagi. Cuma, dia juga tak mau rugi terlalu banyak. Kalau bisa dia juga tetap memperoleh uang hasil penjualan rumahnya. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.