Lawan Sindrom Metabolik dengan Rutin Lari Sejak Dini

FAJAR.CO.ID - Indonesia memiliki prevalensi cukup tinggi terhadap sindrom metabolik, yaitu kumpulan faktor risiko kesehatan yang bila tidak segera ditangani bisa berakibat fatal, seperti peningkatan tekanan darah, kadar gula darah tinggi, lemak berlebih di sekitar pinggang, serta rendahnya HDL atau kolesterol baik. Pubertas menjadi periode rawan munculnya sindrom ini.

Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia mencapai 23 persen. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menggambarkan beberapa kondisi kesehatan yang terkait sindrom ini; antara lain proporsi obesitas usia dewasa yang meningkat dari 14,8% (Riskesdas 2013) menjadi 21,8%, prevalensi hipertensi dari 25,8% naik ke 34,1%, dan peningkatan prevalensi diabetes melitus dari 6,9% menjadi 8,5%.

Gaya hidup sedentary (tidak aktif/malas bergerak) dan konsumsi asupan tak sehat berandil besar. Terbukti, 33,5% penduduk Indonesia ternyata belum cukup beraktivitas fisik, sementara 95% masih kurang mengkonsumsi sayur dan buah (Riskesdas 2018).

Temuan lain bahkan menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara di Asia Pasifik yang paling menggemari camilan; serta mayoritas lebih memilih keripik, biskuit, roti atau kue, ketimbang kudapan sehat.

Dr. Sandi Perutama Gani, Medical Expert Combiphar menerangkan dengan beragam keadaan tersebut, sindrom metabolik bisa semakin berpotensi mengancam masyarakat Indonesia - tak terkecuali kepada kalangan remaja.

"Pada masa pubertas, tubuh mengalami perubahan hormon secara pesat yang dapat mempengaruhi kemunculan sindrom metabolik. Bila tak segera disadari, dampaknya bisa membawa perubahan besar dalam tubuh," jelas dr. Sandi di Bogor baru-baru ini.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Andin Andin


Comment

Loading...