Memerdekakan Hak Anak, Ciptakan Kebersamaan Keluarga Tanpa Gadget

Senin, 25 Maret 2019 - 16:51 WIB

FAJAR.CO.ID – Rumah dan keluarga merupakan kampus pertama bagi anak, tempat dimana anak belajar banyak hal. Ayah dan ibu bertindak sebagai dosen yang memberikan pelajaran kepada anak-anak. Anak melatih berpikir sehat dengan berdiskusi, berdebat dan beragumentasi dengan ayah dan ibu.

Demikian pendidikan keluarga yang baik. Namun, pada kenyataannya berbeda. Penjajahan sekarang ini terjadi, pada orangtua mereduksi arti kasih sayang dengan gadget. Anak menjadi anteng karena sibuk dengan gadget, anak menurut karena gadget. Kini realita yang banyak terjadi, anak dan orangtua kehilangan keakraban, anak kehilangan daya berpikir kritis, anak kehilangan kampus kehidupan, anak kehilangan dosen sejatinya yaitu ayah dan ibu.

Inilah yang melatarbelakangi Rumah Amalia berpartisipasi pada pameran 5th Banten Campus Expo 2019 di Mall Teras Kota, BSD Tangsel yang berlangsung selama tiga hari 25 – 27 Maret mendatang.

Ketua Rumah Amalia Muhamad Agus Syafii mengatakan bahwa dengan terlibat di pameran ini, Rumah Amalia ingin mengampanyekan kemerdekaan hak anak untuk mendapatkan pendidikan melalui kampus kehidupan yang bernama keluarga, ayah dan ibu sebagai dosen. Ia mengajak para orangtua agar membangun keakraban atau bonding dengan anak dengan mengajak anak berdiskusi, berdebat dan berargumentasi.

“Kita prihatin dengan kondisi saat ini dimana perkembangan anak-anak terjajah oleh gadget. Hasil riset, anak usia 2 tahun sudah 5 persen kenal gadget ketika menyusui dengan ditunjukan video. Bahkan anak 4 tahun gak mau makan kalau gak dibukain YouTube,” jelas Agus saat ditemui di sela-sela acara 5th Banten Campus Expo 2019 di Tangerang, Senin (25/3).

Kebiasaan orangtua menenangkan anak dengan gadget akan membuat anak semakin bergantung dan mengalami adiksi atau “kecanduan” gadget. Pria yang juga sebagai penulis buku ini memberitahukan ciri-ciri anak yang mengalami adiksi gadget yakni histeria bila dijauhkan dari gadget.

“Ketika gadged diambil alih oleh orangtuanya anak akan histeris, menjerit bahkan bunuh diri. Karena dia merasa bahwa tidak bisa hidup tanpa HP. Ini menjadi sesuatu yang ironis. Yang jauh lebih utama bagaimana keluraga bisa melindungi anak-anak dari bahaya gadget,” terang Agus.

Untuk itu kata Agus, Rumah Amalia yang terletak di Kelurahan Sudimara Timur, Kecamatan Cileduk, Kota Tangerang menaungi 90 anak yang terdiri dari anak yatim dan anak dari kaum duafa ini sedang mensosialisakan memerdekan anak. Ia mengajak para orangtua untuk melakukan quality time bersama anak tanpa gadget.

Anak-anak Rumah Amalia sedang menampilkan drama Kisah Cinta Rumah Amalia di acara 5th Banten Campus Expo 2019 di Mall Teras Kota, BSD Tangsel, Senin (25/3).(Andi Mardana)

“Kita mengajak orangtua rehatkan gadget, kasi waktu untuk keluarga agar lebih akrab. Kasi waktu misal jam 13.00 – 15.00 gunakan gadget selebihnya main bola dll,” jelas Agus.

Salah satu hal yang bisa dilakukan orangtua ialah dengan membuat kesepakatan bahwa saat bekerja bisa menggunakan gadget tapi saat di rumah gadget harus disimpan. Hal ini semata-mata untuk mengembalikan keakraban antara orangtua dan anak sebagai faktor utama.

“Banyak terjadi ayah ibu makan satu meja tapi ngobrol via Whatsapp, kita kehilangan sisi manusia yang paling mendasar, kita kehilangan jati diri. Kita seakan hidup di dunia maya. Ini aneh, mampukah kita untuk sejenak atau satu hari bermain dengan anak-anak, lari-larian, betul-betul jadi manusia?. Jangan sampai persoalan kasih sayang tergantikan karena gadget,” ujar Agus prihatin.

Pada pameran edukasi ini Rumah Amalia menampilkan drama Kisah Cinta Rumah Amalia, Tari Saman, Pameran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kreativa Rumah Amalia, Talkshow memerdekakan hak anak, dan Games & art n craft. Sebanyak 14 anak Rumah Amalia ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Sebanyak 14 anak yang dilibatkan, tujuh main teater dan tujuh Tari Saman,” kata Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *