170 Ribu Korban Tsunami Palu Masih Hidup di Pengungsian

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Ribuan anak-anak terpaksa masih tinggal di tempat penampungan sementara, enam bulan setelah gempa bumi dan tsunami yang dahsyat menghantam Kota Palu. Organisasi badan amal dunia melaporkan kondisi tersebut.

Gempa berkekuatan 7,5 dan banjir berikutnya menghancurkan kota pesisir di pulau Sulawesi September lalu, menewaskan lebih dari 4.300 orang, menurut Badan Bencana Nasional Indonesia.

Setidaknya 170.000 penduduk dari Palu dan kabupaten di sekitarnya masih mengungsi dan seluruh lingkungan masih dalam reruntuhan, meskipun kehidupan kembali normal di daerah lain kota.

“Enam bulan setelah bencana ini, kami sangat prihatin dengan perkiraan 6.000 anak-anak masih tinggal di penampungan sementara seperti tenda, serta ribuan lainnya yang tinggal di rumah-rumah yang telah rusak,” kata aktivis Save the Childern, Tom Howells, seperti dilansir channelnewsasia, Selasa (26/3/2019).

Salah seorang anak, Salsa, 10, dan orang tuanya telah tinggal di tenda dengan lantai tanah sejak tsunami melanda rumah mereka di Donggala. “Cahaya di sini berasal dari lampu baterai,” kata siswa kelas lima. “Seringkali ketika kita tidur ada banyak tikus.” sambungnya.

Di sisi lain, para pengungsi banyak menderita malaria dan demam berdarah akibat musim penghujan.

Palang Merah mengatakan pemulihan sangat lambat dan seringkali rumit. “Bagaimana kamu bisa membangun kembali garis pantai, kota, atau komunitas ketika sebagian besar darinya ditelan bumi?” kata Jan Gelfand.

“Orang-orang di komunitas yang terkena dampak membutuhkan sumber pendapatan reguler untuk mempertahankan diri mereka sendiri,” sebut Christophe Bahuet, Perwakilan Indonesia dari Badan Pembangunan PBB. (bs)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...