Enam Bulan Sembunyi di Hong Kong, Remaja Saudi Kini Mulai Hidup Baru

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Dua kakak beradik perempuan dari Arab Saudi yang menghabiskan enam bulan bersembunyi di Hongkong telah pergi ke suatu negara untuk memulai hidup baru. Dilansir dari BBC pada Senin (25/3), keduanya pergi dari Saudi karena tak tahan dengan keluarganya.

Rawan dan Reem (bukan nama asli mereka) mengatakan, mereka tidak ingin kembali ke rumah karena takut dihukum. Kakak beradik itu mengatakan, mereka dihentikan para pejabat Saudi di bandara Hong Kong dalam perjalanan menuju Australia pada September.

Tak ada detil tentang di mana mereka berada dan bagaimana mereka pergi. “Kami senang bahwa kisah kami memiliki akhir yang bahagia dan kami telah menemukan jalan yang aman untuk memulai kembali hidup kami, bebas dari kekerasan dan penindasan!” ujar mereka dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh pengacara mereka.

Dua bersaudara itu melarikan diri dari bandara dan menghabiskan enam bulan berikutnya di Hong Kong bersembunyi di 13 tempat berbeda termasuk hotel, hostel, dan tempat penampungan (CCN). Mereka meninggalkan Hong Kong akhir pekan lalu dalam keadaan aman dan sehat. Pihak berwenang Saudi belum mengomentari kasus ini.

Sebelumnya, Rawan, 18, dan Reem, 20, tiba di bandara Hong Kong pada September sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Melbourne, Australia. Mereka melarikan diri dari keluarga mereka saat berlibur di Sri Lanka.

Tetapi mereka dihentikan pejabat Saudi yang berusaha mengambil dokumen perjalanan mereka. Mereka kemudian menolak naik pesawat ke Dubai, sayangnya penerbangan ke Melbourne yang telah mereka pesan telah dibatalkan.

Dua bersaudara itu melarikan diri dari bandara dan menghabiskan enam bulan berikutnya di Hong Kong bersembunyi di 13 tempat berbeda termasuk hotel, hostel, dan tempat penampungan.

Mereka mengatakan, mereka telah merencanakan untuk melarikan diri dari keluarga mereka karena mereka tidak memiliki martabat dalam kehidupan mereka di Arab Saudi. Mereka dipukuli, dihina dan dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga oleh saudara lelaki mereka.

“Mereka sekarang berada di sebuah negara ketiga. Mereka memulai hidup mereka sebagai perempuan muda yang bebas, berharap untuk berasimilasi dengan budaya lokal, berkontribusi pada rumah baru mereka dan menjalani kehidupan sebagai manusia yang setara, mereka mendapatkan visa kemanusiaan di sana,” kata pengacara mereka Michael Vidler.

Reem mengatakan kepada BBC pada bulan Februari bahwa ia telah mempelajari sastra Inggris sebelum melarikan diri dan ia memiliki rencana untuk menulis tentang kehidupan mereka di Arab Saudi. Rawan mengatakan, ia ingin mempelajari biologi dan mendapatkan gelar PhD dalam bidang genetika.

Direktur Riset Timur Tengah Amnesty International, Lynn Maalouf mengatakan, kakak beradik itu harus diizinkan untuk membangun kehidupan mereka tanpa hidup dalam ketakutan terhadap keluarga mereka atau pihak berwenang Saudi akan memaksa mereka kembali ke negaranta. “Tidak ada perempuan atau gadis yang harus takut akan hidup mereka seperti Reem dan Rawan. Arab Saudi harus segera mereformasi sistem perwalian dan mengakhiri seluruh jajaran hukum dan praktik diskriminatif yang dihadapi perempuan,” ujar Maalouf. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...