2019, Jumlah Korban Meninggal di Jateng Akibat DBD Capai 50 Orang

0 Komentar

ILUSTRASI: Penanggulangan penyakit Demam Berdarah (DB) di Jawa Tengah perlu penanganan ekstra. (Dery Ridwansyah/JPC)

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Penanggulangan penyakit Demam Berdarah (DB) di Jawa Tengah perlu penanganan ekstra.Pasalnya baru beberapa bulan, tercatat 50 orang di Jawa Tengah meninggal karena Demam Berdarah Dengues (DBD). Bahkan jumlah penderitanya saat ini sudah mencapai 3.000 jiwa lebih.

Informasi itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jateng, Tatik Murhayati. Selain para korban yang berjatuhan itu, ia menyebut saat ini di wilayahnya ada 3.146 jiwa pasien DBD.

“Untuk yang meninggal, kebanyakan adalah anak usia sekolah. Umurnya antara 10 tahun hingga 14 tahun,” kata Tatik, Senin (25/3).

Tatik mengungkap, jatuhnya korban pada kasus DBD ini biasanya disebabkan oleh penanganan yang terlambat. Buntut dari kurangnya respons masyarakat yang belum memahami gejala penyakit ini.

Adapun daerah-daerah yang jumlah pasien DBD-nya mendominasi selama ini. Yakni berkutat pada tiga kabupaten/kota. Antara lain, Kabupaten Grobogan, kota Salatiga dan Kabupaten Jepara.

Semenjak Januari hingga awal Maret, tiga daerah itu selalu menempati posisi tiga besar. Namun pada Februari lalu, Kabupaten Magelang sempat masuk dan menempati peringkat pertama daerah dengan penderita DBD paling banyak. “Tapi, sampai sekarang belum ada yang berstatus KLB (Kejadian Luar Biasa),” jelas Tatik memastikan.

Untuk di Kota Semarang sendiri, tercatat ada tren peningkatan pada jumlah penderita DBD. Menurut Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kota Semarang, Mada Gautama, sampai pertengahan Maret kemarin, ditemukan sebanyak 168 kasus DBD.

Padahal, menurut Made, jumlah kasus sepanjang 2018 lalu hanya mencapai 103 kasus saja. “Tahun ini, tujuh pasien meninggal dunia. Tapi sekarang belum masuk KLB,” tuturnya.

(JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar