Prabowo: Kalau Disakiti, Balas dengan Kebaikan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Calon presiden (capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto melayangkan kritikan pedas terhadap pemerintahan Jokowi.

Saat kampanye di Lapangan Kompyang Sujana, Denpasar Barat, kemarin (25/3) siang. Selain melancarkan kritik, Prabowo mengumbar sederet janji.

Yang menarik, politikus yang pernah menjabat Pangkostrad itu juga membantah dirinya didukung Islam radikal. Dia mengatakan, dalam pencalonannya semua tokoh umat agama mendukungnya. Tak terkecuali kelompok Islam.

Di depan pendukungnya, Prabowo bersumpah mengabdi dan membela rakyat Indonesia. “Lebih baik hancur membela kebenaran daripada membohongi rakyat,” ketusnya.

Prabowo juga menyoroti kekayaan alam Indonesia yang banyak mengalir keluar negeri. Lagi-lagi dia menyebut kegagalan itu karena ulah elite di Jakarta. Karena itu harus ada perubahan di masa mendatang.

Khusus untuk pendukungnya di Bali, Prabowo berpesan tidak ikut menipu orang lain. Kalau pun disakiti mesti kuat dan tabah serta membalasnya dengan kebaikan.

Prabowo meminta pendukungnya di sisa waktu 22 hari bisa digunakan meyakinkan lingkungan di sekitar tempat tinggal untuk mendukung Prabowo – Sandi.

Menurut Prabowo, inti dari masalah yang ada yaitu kekayaan Indonesia diambil dibawa ke luar negeri. Jika menjadi presiden, Prabowo berjanji akan mewujudkan pemerintah yang bersih.

Ia akan mengetes dan mewawancarai langsung pejabat yang akan dipilih. Pejabat yang dipilih harus sanggup tidak memperkaya sendiri, keluarga dan konco-konconya.

“Kalau sanggup tidak korupsi baru saya akan lantik jadi menteri, wakil menteri, dirjen dan dirut BUMN. Hai dirut-dirut BUMN, itu perusahaan bukan milik nenek moyangmu tapi milik pemerintah,” sindirnya dengan nada meninggi.

Setelah itu, Prabowo mengajak massa menyanyikan lagu Tanah Air Beta dan Siyo Mama sebagai wujud cinta tanah air.

Prabowo sempat menyinggung sejarah rakyat Bali yang berani dan militan melawan penjajah, sebagaimana yang ditunjukkan I Gusti Ngurah Rai dalam peristiwa Puputan Margarana. Walau dikepung penjajah tetap tidak menyerah. “Saya rasa (puputan) inilah yang patut kita hargai,” pungkasnya. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...