DUMBO, Kisah Gajah Terbang dan Keserakahan Manusia

0 Komentar

Oleh: Jeri Wongiyanto
Pecinta dan Pengamat Film

MASIH ingat film animasi berjudul Dumbo? Pertama kali ditayangkan di era tahun 40an. Film ini kemudian diputar berulang-ulang dan diterbitkan dalam bentuk komik. Kisah Dumbo sudah menjadi bagian dari banyaknya dongeng milik Disney. Dan kini, Disney kembali mempersembahkan Dumbo dengan versi live action.

Kisah Dumbo kali ini ditangani sutradara gaek dan fenomenal Tim Burton, sangat berbeda dengan versi klasik aslinya. Kalau dulu, Dumbo mempunyai mentor seekor tikus yang mengajarnya terbang, maka kini ia dibimbing oleh keluarga Holt Farrier (Cloin Farrell) dan dua anaknya Milly (Nico Parker) dan Joe (Finlet Hobbins).

Bersetting tahun 1919, rombongan sirkus keliling Medici Bersaudara yang dipimpin Max Medici (Danny DeVito) tiba di Kota Joplin, Missouri. Milly dan Joe yang sudah menjadi bagian dari keluarga sirkus, bergembira karena ayahnya Holt sudah pulang dari perang. Holt yang jago mengendari kuda, kecewa karena Medici telah menjual kuda-kuda atraksinya. Sebagai gantinya, Max membeli seekor gajah hamil bernama Jumbo dan menugaskan Holt menjadi pengasuhnya.

Suatu hari, Jumbo melahirkan anaknya. Namun tanpa di duga, bayi gajah yang seharus lucu, justru terlihat aneh. Anak Jumbo lahir dengan telinga yang panjang dan sangat lebar. Max tentu kecewa dan menyesal telah membeli Jumbo. Max kemudian mencoba menampilkan bayi Jumbo, namun karena bentuknya yang aneh, justru mendapat caci maki dari penonton. Anak Jumbo yang diberi nama Dumbo, ini ketakutan membuat Ibunya marah dan mengamuk hingga terjadilah kekacauan.

Agar lebih mudah bagi Dumbo menampilkan atraksinya, Max menjual Jumbo. Dumbo sangat sedih. Namun Milly dan Joe menemukan cara membangkitkan semangat hidup Dumbo. Dengan telinganya yang aneh, Dumbo dilatih terbang. Maka Dumbo pun menjadi bintang baru di sirkus Medici.

Ketenaran Dumbo, kemudian menarik perhatian VA Vandevere (Michael Keaton) pemilik wahana hiburan terbesar di New York yang licik dan sangat serakah. Dia kemudian membujuk Max sebagai partner dengan iming-iming kekayaan dan kesejahteraan bagi Max dan seluruh anggota sirkusnya. Bagaimana nasib sirkus Max ditangan VA Vandevere kemudian?

Ketamakan dan keserakahan manusia dengan gamblang ditampilkan di sini. Pesan moral pun ditaburkan sutradara Tim Burton di sepanjang film. Banyak unsur yang akan menyenangkan dan memikat hati penonton apalagi anak-anak. Keajaiban sirkus, atraksi yang memanjakan mata dan emosi ikatan keluarga dibangun Tim dengan sangat baik. Namun sepertinya Tim sangat berfokus pada Dumbo. Padahal Tim bisa menggali lebih dalam lagi, ikatan emosional antara Dumbo, Milly dan Joe. Tim memilih membuat banyak konflik dalam kehidupan sirkus.

Yang mengagumkan adalah sosok Dumbo yang sangat hidup. Kecanggihan CGI membuat Dumbo sangat berkarakter dan ekspresif ia selalu gugup, penakut dan lucu. Dumbo juga bisa membuat mata penonton berkaca-kaca saat harus berpisah dan berjuang bertemu Ibunya.

Tim yang dikenal selalu membuat film dengan tone yang gelap, juga membuat film ini menjadi redup di banding film-film Disney yang penuh warna ceria. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment