Harga Ayam Anjlok, Pemerintah Gandeng 3 Asosiasi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Harga ayam di level peternak yang anjlok hingga menjadi Rp 11.000 per kilogram membuat pemerintah turun tangan.

Kementerian Perdagangan bakal menyerap ayam hidup (live bird). Harga pembelian tetap mengacu yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan 96/2018, yakni Rp 18.000 per kg.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengungkapkan bahwa Kemendag menggandeng Asosiasi Rumah Potong Hewan (Arphuin), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBBI).

’’Rumah potong, peritel, bersama pengelola pusat belanja sudah sepakat akan bersama-sama menyerap daging ayam yang siap jual dari rumah potong hewan,’’ ujar Tjahya di Jakarta, Rabu (27/3).

Menurut Tjahya, penyerapan ayam hidup Rp 18.000 per kg dimulai pada 1–21 April 2019.

Tjahya mengatakan, alasan ditetapkannya jangka waktu tersebut ialah untuk mengantisipasi sepinya permintaan.

“Sebab, memasuki bulan puasa (Mei), biasanya permintaan naik lagi. Sekarang dianggap bulan-bulan sepi. Jadi, demand dari ayam itu agak berkurang,’’ tutur Tjahya.

Setelah harga diatasi, Kemendag siap melakukan evaluasi mengenai dinamika harga daging ayam yang kerap melonjak dan anjlok sehingga merugikan peternak.

Termasuk mengevaluasi seluruh regulasi yang ada dan mekanisme penerapan regulasi pemerintah di lapangan.

’’Kami akan dalami lebih lanjut supaya kondisi begini tidak berulang setiap tahun. Kami sepakat dan komitmen untuk bantu mereka,’’ tutur Tjahya.

Ketua Peternak Rakyat dan Peternakan Mandiri (PRPM) Sugeng Wahyudi mengatakan, saat ini harga ayam hidup di wilayah Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Solo telah menyentuh Rp 10.500 per kg.

Sementara itu, harga ayam hidup di wilayah Jawa Barat harga ayam mencapai Rp 13.000 per kg.

’’Harga-harga jauh di bawah biaya pokok produksi di kisaran Rp 19.500 per kg. Kondisi ini sudah berlangsung hampir tujuh bulan dan ini memberatkan peternak,’’ ujar Sugeng.

Menurut Sugeng, jatuhnya harga ayam hidup dipicu kelebihan produksi dan tingginya biaya sarana produksi.

Faktor sarana produksi tersebut meliputi day old chick (DOC) dan pakan ternak.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Parjuni menuturkan, dalam tujuh bulan terakhir, peternak rugi 100 persen. Bahkan, beberapa peternak kecil sudah gulung tikar.

Parjuni menggambarkan, biaya produksi ayam hidup adalah Rp 20.000 per kg.

Namun, ketika panen, mereka justru merugi Rp 5.000 per kg karena harga jual anjlok.

Padahal, dalam tujuh bulan tersebut, mereka sudah panen empat kali.

’’Itu berarti peternak rugi 100 persen,’’ ujar Parjuni. (agf/c4/oki/jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...