Lama Menduda, Kakek Garap Bocah 10 Tahun Selama Empat Bulan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Kasus pencabulan yang melibatkan Didik Azis Purba, 28, guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul Hikmah Penajam Paser Utara (PPU) masih melekat di ingatan masyarakat PPU. Kasus serupa kembali terjadi di daerah ini.

Seorang kakek berusia 51 tahun di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU, tega menyetubuhi anak tetangganya yang masih berusia 10 tahun. Kapolsek Babulu, Iptu Alimuddin mengatakan, Andi Tahir, 51, memulai aksi bejatnya sejak Desember 2018. Aksinya sudah berlangsung hingga empat kali.

Akan tetapi, pelaku melakukan perbuatan tak senonoh hanya sebatas meraba-raba seluruh tubuh korban. Awal Januari 2019, pelaku mengulangi perbuatannya.

Kali ini lebih intim. Pelaku tegas menyetubuhi korban berinisial DJ, 10, layaknya suami istri. “Pada Desember lalu, tersangka melakukan empat kali dengan meraba-raba dada dan kemaluan korban. Tapi, di Januari, tersangka menyetubuhi korban di siang hari sebanyak satu kali,” kata Alimuddin, Kamis (28/3).

Perbuatan bejat kakek berstatus duda ini tidak langsung terendus kedua orangtua korban. Kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur ini, terungkap saat pelaku hendak mengulangi perbuatannya Maret ini. Tapi, siswi kelas IV SD yang telah taruma itu langsung lari dan melapor kepada orang tuanya.

Alimuddin mengatakan, korban dibawa ke Puskemas Babulu oleh kedua orang tuanya. Sebab, korban mengeluh sakit di alat vitalnya setiap kali buang air kecil, Sabtu (23/3).

Polsek Babulu mengetahui kasus tersebut setelah mendapat informasi dari pihak Puskesmas Babulu. Kemudian, anggota Polsek Babulu mendatangi korban yang sedang menjalani perawatan di puskesmas tersebut.

Orang tua korban disarankan untuk membuat laporan polisi dan saat itulah korban membeberkan hal buruk yang dialaminya.
“Kami mendapatkan informasi dari Puskesmas Babulu, bahwa ada warga Desa Babulu Laut yang memeriksakan anaknya dengan keluhan sakit saat buang air kecil dan diduga korban persetubuhan. Kemudian anggota Unit Reskrim Polsek Babulu melakukan pengecekan ke Puskesmas Babulu,” katanya.

“Ternyata benar, anak itu korban persetubuhan. Sehingga orang tuanya disarankan membuat laporan polisi,” terangnya.

Setelah orang tua korban melapor secara resmi, Alimuddin menyatakan, pihaknya langsung melakukan penyelidikan dan mencari pelaku. Tapi, pelaku tidak ditemukan di rumah kontrakannya.

Tak lama kemudian, polisi mendapat informasi Andi Tahir sedang sembunyi di sebuah pondok empang di Jalan Sarang Alang, Desa Babulu Laut. “Pelaku ditangkap di pondok empang yang ia kelola,” terangnya.

Alimuddin mengungkapkan, pelaku dan korban tidak memiliki hubungan keluarga. Keluarga pelaku dan korban hanya menjadi kedekatan sebagai tetangga. Bahkan tersangka telah menganggap korban adalah cucunya. “Tidak ada hubungan keluarga. Hanya sebatas tetangga. Korban ini sudah dianggap cucu oleh pelaku,” bebernya.

Tersangka Andi Tahir telah diamankan di Polsek Babulu. Namun, sampai saat ini masih belum mengakui perbuatannya. “Pelaku belum mau mengaku. Keterangannya masih berbelit-belit,” tuturnya.

Alimuddin menyatakan, korban saat ini telah mengalami trauma yang cukup berat. Bahkan ketika korban dimintai keterangan di kantor polisi langsung kaget mendengar suara korban dari ruang sebelah.

“Korban sangat trauma atas peristiwa yang dialaminya. Waktu korban dan pelaku kami mintai keterangan di ruang berbeda, tiba-tiba korban terkejut mendengar suara pelaku. Dan tidak mau lagi diajak bicara. Tapi, untungnya korban masih mau masuk sekolah,” ujar Alimuddin.

Berdasarkan hasil visum Puskesmas Babulu, Alimuddin membeberkan, alat vital korban mengalami luka robek. “Hasil visumnya, memang ada luka robek di bagian vital korban,” terangnya.

Kapolsek menegaskan, tersangka Andi Tahir dijerat pasa 81 ayat 1 dan ayat 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto pasal 76D Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar