Industri Ritel Indonesia di Era Disrupsi Teknologi Digital

Jumat, 29 Maret 2019 - 10:01 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan industri ritel secara makro yang kontribusinya sangat penting kepada perekonomian Indonesia, yaitu sebagai pendukung utama konsumsi masyarakat (variabel C dalam formula Gross Domestic Product atau GDP Indonesia).

Menurut Yongky Susilo, Consumer Behavior Expert, Board Expert Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengatakan 56% pertumbuhan perekonomian Indonesia disumbang oleh konsumsi penduduk Indonesia.

“Jadi, total pasar ritel yang bertumbuh pesat, memberikan dampak positif pada stabilitas harga, nilai tambah, dan keuntungan bagi semua stakeholder (konsumen, pedagang, dan produsen),” jelas Yongki pada talkshow bertema “Industri Ritel Indonesia di Era Disrupsi,” perayaan anniversary majalah MIX MarComm di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Kamis (28/3).

Menyadari perannya yang sangat strategis, Yongky menekankan pentingnya membangun ekosistem ritel yang berkelanjutan, terutama untuk menghadapi perubahan lansekap industri akibat disruption teknologi digital.

“Kita perlu membangun daya saing dan daya pikat terhadap persaingan dengan ritel regional dan global sehingga pada 2050 nanti kita bisa menjadi negara dengan perekonomian ke lima terbesar dan pemain ritel yang berkontribusi signifikan,” katanya.

Yongky juga menekankan pentingnya regulator membuat rambu-rambu untuk menciptakan ekosistem ritel yang sehat dan adil bagi seluruh pemangku kepentingan (konsumen, pedagang, dan produsen).

“Sehingga setiap format ritel yaitu hypermarket, supermarket, minimarket, toko kelontong, warung, rombong rokok, dan tidak terkecuali ritel online, dapat berevolusi dan survive pada era disruption ini,” katanya.

Menurut Yongky, model bisnis para peritel sangat menentukan daya adaptasi mereka untuk berevolusi menghadapi disruption. “Model bisnis ritel adalah menjual untuk mencari untung. Dan untuk mencari untung diperlukan kreativitas untuk menawarkan kemudahan dan pemenuhan bagi emosi dan loyalitas konsumen,” kata Yongki.

“Perang harga hanya akan membawa sengsara,” pesannya mengomentari fenomena perang harga yang marak digunakan peritel saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.