Kementan Dorong Pengembangan Jagung Rendah Aflatoksin Sebagai Substitusi Impor

Jumat, 29 Maret 2019 21:40

“Untuk memproduksi jagung rendah aflatoksin memerlukan penanganan khusus mulai dari budidaya, penanganan pasca panen sampai distribusi kepada peternak, disamping itu perlu insentif harga yang memadai” ujar Gatut.“Jagung rendah aflatoksin digunakan sebagai bahan pakan sapi perah agar dapat menghasilkan susu segar dengan persyaratan flatoksin maksimal 0,5 ppb” lanjut Gatut.Tingginya kebutuhan akan jagung rendah aflatoksin (dibawah 20 ppb) didalam negeri setiap tahunnya yang diperkirakan sebesar 15.000 ton, telah mendorong Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk berinovasi sehingga mampu menyediakan jagung rendah aflatoksin dengan kapasitas produksi sebesar 30 ton per hari.“Kemampuan Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk menyediakan jagung rendah aflatoksin yang dibutuhkan oleh industri seperti PT. Greenfilds patut kita dukung dan kita dorong untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya sehingga mampu mensuplai kebutuhan industry dalam negeri” ujar Gatut.Selain menghasilkan jagung rendah aflatoksin, Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis juga telah mampu meningkatkan nilai tambah dengan inovasinya untuk menghasilkan Corn Cob (janggel).Corn Cobs (janggel) merupakan produk samping produksi jagung rendah aflatoksi dengan pemipilan tersentralisasi menggunakan corn sheller yang diolah dalam bentuk compact dan digunakan sebagai salah satu media untuk budidaya jamur merang. Korea Selatan telah meminta Corn Cobs sebanyak 300 ton/ bulan, namun Koperasi NA baru bisa merealisasikan 150 ton dan sisanya 150 ton dalam tahap produksi.

Bagikan berita ini:
8
9
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar