Kementan Dorong Pengembangan Jagung Rendah Aflatoksin Sebagai Substitusi Impor

Jumat, 29 Maret 2019 21:40

Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agrobisnis jagung masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan agrobisnis jagung didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan agrobisnis jagung adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur, Rumaksi mengatakan sebagai bahan pakan ternak, cemaran aflatoksin pada jagung merupakan salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen jagung. Selain kadar air, aflatoksin cukup signifikan dalam meningkatkan posisi tawar sehingga jagung bisa diterima oleh pabrik pakan.”Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu persyaratan mutu jagung yang sangat penting adalah kandungan mikotoksin terutama aflatoksin. Selain mempengaruhi mutu hal tersebut juga berkaitan dengan kemananan pangan. Dalam SNI dipersyaratkan kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb,” kata Rumaksi.Harapannya launching pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin dari Koperasi Produksi Syariah Dinamika Nusa Agribisnis (DNA) ke PT. Greenfields dan ekspor Corn Cobs (Janggel Jagung) ke Korea Selatan tersebut akan berkelanjutan dan diikuti pengiriman berikutnya dengan kapasitas yang lebih besar dan tentu saja kualitas yang terus mengalami peningkatan. Hal tersebut untuk menjaga kepercayaan dunia industri terhadap jagung asal Lombok Timur.

Bagikan berita ini:
10
2
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar