Gabah Anjlok, JK: Tugas Bulog Stabilkan Harga

Senin, 1 April 2019 - 14:26 WIB

FAJAR.CO.ID–Harga gabah kembalo bergejolak. Saat musim panen di sejumlah daerah, harga gabah kering panen malah anjlok menjadi Rp2.500 per kilogram (kg). Padahal, harga pembelian pemerintah (HPP) adalah Rp4.000 per kg.

Kasus anjloknya harga gabah juga terjadi di Jember, Jawa Timur (Jatim). Sejumlah petani bahkan sempat berdemonstrasi dengan membakar gabah kering. Kasus serupa terjadi di Jombang.

Merosotnya harga gabah tersebut disinggung Wakil Presiden, Muhammad Jusuf Kalla (JK) dalam silaturahmi kebangsaan di Kota Makassar kemarin (31/3). Acara itu diselenggarakan Jenggala Center Sulawesi Selatan (Sulsel).

Setelah menyampaikan pidato sekitar 20 menit, JK membuka sesi dialog. Salah seorang undangan mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok. Termasuk harga beras. Menjawab keluhan tersebut, Wapres JK menjelaskan bahwa komoditas beras berbeda dengan cokelat. Sebab, cokelat itu diimpor dan pendapatan masyarakat ikut naik kalau harga cokelat melonjak. Harga beras tidak demikian. Jika ada kenaikan harga, biaya hidup ikut terpengaruh.

“Sebanyak 60 persen (pengeluaran, Red) untuk makan. Karena itulah, ongkos hidupnya bakal naik,” jelasnya.

Sebaliknya, harga beras atau gabah tidak bisa begitu saja diturunkan. Sebab, bila harga beras atau gabah diturunkan, akan timbul masalah di kalangan petani. “Di situlah fungsi Bulog (Badan Urusan Logistik, Red),” tutur JK.

Dia menegaskan tugas Bulog adalah membuat harga gabah atau beras menjadi stabil.

JK mengingatkan, jika harga beras atau gabah di tingkat petani turun, Bulog membeli dari petani sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sebaliknya, ketika harga beras naik, Bulog melakukan operasi pasar. Caranya, menjual stok yang dimiliki Bulog kepada masyarakat sesuai dengan harga acuan. “Saya pernah menjabat kepala Bulog meski cuma enam bulan,” ungkap JK.

Meski begitu, untuk mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok, pemerintah sudah memberikan sejumlah bantuan. Misalnya, beras murah dan program beras sejahtera (rastra). Selain itu, masih ada sejumlah program bantuan sosial (bansos).

Sebelumnya, menyikapi anjloknya harga gabah, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyerukan larangan transaksi gabah yang tidak sesuai dengan keputusan presiden (keppres). Menurut Amran, di regulasi tersebut, harga terendah gabah adalah Rp 4.070 per kg.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas dan Kelembagaan Bulog Firmansyah mengatakan, tahun ini Bulog menargetkan menyerap 1,8 juta ton gabah dan beras dari petani. Sampai kemarin (31/3), jumlah serapan baru mencapai 60 ribu ton. Meski masih jauh dari target, pihaknya optimistis akan tercapai. “Nanti pas panen raya pasti akan meningkat. Tugas Bulog menyerap dengan maksimal hasil panen petani sesuai Inpres 5/2015,” ungkapnya.

Dia menyatakan, dari pantauan Bulog, harga di tingkat petani masih di atas HPP. Bila harganya anjlok di bawah HPP tapi kualitasnya sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2015, gabah akan segera diserap. Seperti diketahui, dalam Inpres 5/2015, HPP untuk gabah di tingkat petani Rp 3.700 per kg. “Bulog membeli dengan harga ketentuan inpres,” imbuhnya.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi mengatakan, memasuki masa panen, terutama di wilayah Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat, harga beras relatif stabil. Dengan demikian, pelaksanaan program ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) yang dilaksanakan Bulog mulai menurun. “Semula 2.000-3.000 ton per hari, selama seminggu ini di bawah 1.000 ton,” ungkapnya kemarin.

Pada masa panen ini, Bulog menyerap gabah dan beras petani untuk menjaga harga gabah di tingkat petani tidak jatuh di bawah HPP. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.