Penyebaran Infeksi Marak Terjadi di Rumah Sakit

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian bersama adalah penyebaran infeksi yang saat ini masih marak terjadi di rumah sakit di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai institusi pelayanan kesehatan, rumah sakit memang sangat rentan dengan penularan bakteri-bakteri penyakit, dan lingkungan rumah sakit yang tidak bersih dapat menambah risiko penyebaran infeksi.

Dengan semakin melonjaknya jumlah pasien dan pengunjung rumah sakit, risiko penyebaran infeksi ini pun semakin menjadi tantangan besar bagi para pengelola rumah sakit.

“Oleh karenanya, upaya mengantisipasi penyebaran infeksi sebagai bagian penting dari peningkatan standar pelayanan rumah sakit harus terus dilaksanakan dan dimonitor, sesuai dengan Standard Operational Procedure yang berlaku,” jelas dr. Imran Agus Nurali, SpKO, Direktur Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di ajang Indonesia Hygiene Forum (IHF) oleh PT Unilever Indonesia Tbk bekerjasama dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta baru-baru ini.

Pada kesempatan itu, dr. Anis Karuniawati, SpMK., Ph.D selaku Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinis menerangkan, riset membuktikan bahwa lingkungan rumah sakit yang tidak higienis berpotensi menjadi sumber infeksi. Awalnya, bakteri pada tubuh pasien menempel pada permukaan sekitar pasien.

Bakteri ini lalu hidup dan bertahan pada permukaan, lalu mengkontaminasi benda dan orang atau pasien lain. Bakteri lalu berpindah dari satu orang ke orang lainnya, sehingga bakteri dari pasien rawat sebelumnya akhirnya menjangkiti pasien rawat berikutnya.

“Olehnya itu, higienitas menjadi sangat penting karena semakin rendah jumlah bakteri dalam lingkungan, semakin rendah pula risiko terjadinya infeksi,” terang dr. Anis.

Ia menambahkan penyebaran infeksi melalui permukaan benda hidup (tangan) dapat diinterupsi melalui perilaku mencuci tangan dengan sabun (hand hygiene) atau tindakan antiseptik lainnya. “Sementara, penyebaran melalui benda mati harus diinterupsi melalui pembersihan, disinfeksi, dan/atau sterilisasi,” jelas dr. Anis.

Menurut ia, pemilihan disinfektan dan metode disinfeksi sepatutnya mempertimbangkan beberapa hal, seperti: sifat benda yang akan mendapatkan tindakan disinfeksi, jumlah mikroba pada permukaan, resistensi mikroba terhadap efektivitas disinfektan, jumlah kotoran yang terkandung pada permukaan, tipe dan konsentrat disinfektan yang digunakan, serta suhu dan waktu kontak dengan disinfektan.

Ketua PERSI, dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes. mengatakan rumah sakit wajib melaksanakan program pencegahan dan pengendalian infeksi yang terintegrasi, terprogram, dan terpantau.

“Contohnya dengan membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien melalui cuci tangan dan penggunaan sarung tangan, melakukan disinfeksi untuk mengontrol risiko penularan dari lingkungan, serta memastikan kebersihan lingkungan rumah sakit dan seluruh permukaan fasilitas rumah sakit, termasuk lantai,” kata dr. Kuntjoro.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment