Begini Tanggapan Cak Nun soal People Power versi Amien Rais

Rabu, 3 April 2019 - 17:44 WIB

Cak Nun kala menggelar tatap muka bersama wartawan di Rumah Makan Padang Sederhana, Kota Semarang, Rabu (3/4). (Tunggul Kumoro/JPC)

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Tokoh intelektual Islam sekaligus budayawan dan seniman, Muhammad Ainun Najib alias Cak Nun, tidak percaya jika people power bisa benar-benar terjadi di Indonesia. Istilah ini belakangan ramai usai Amien Rais mengatakan adanya aksi massa besar jika sampai muncul dugaan kecurangan dalam pilpres 2019.

“Menurut saya, people power itu nggak bisa. Wong segmented kok. People power itu mungkin bisa efektif kalau anda pawang nasional,” katanya saat menggelar jumpa pers di Rumah Makan Padang Sederhana, Kota Semarang, Rabu (3/4).

Gerakan people power, menurutnya, bakal bisa berjalan jika seluruh kelompok itu satu suara dengan penggeraknya. Ini melihat dari karakteristik masyarakat Indonesia saat ini. “Kalau hanya tokoh segmented, apa imam besar di Indonesia, apa tokoh apa, tapi yang lain nggak (satu suara), nggak mungkin ada revolusi yang berguna di situ,” imbuhnya.

Sebenarnya, revolusi macam ini kata Cak Nun pernah hampir terealisasi pada masa reformasi tahun 1998 silam. Tepatnya semasa ujung kepemimpinan mendiang Presiden Soeharto.

Namun, kala itu revolusi berakhir kecut lantaran ada kepentingan pribadi dan tersembunyi dari sesama rekan pergerakan. “Saya nggak percaya ada people power. Paling nanti jadinya benturan horizontal,” tegas Cak Nun.

Sesuai pemahaman Cak Nun, masih ada sejumlah hal lagi yang mampu mengubah jenis manusia secara antropologi, DNA, budaya dan lain sebagainya. Terlepas dari ‘pawang nasional’ itu tadi. Yakni, bencana alam besar-besaran, endemi atau penyakit menular bersifat masal, dan revolusi berpikir digencarkan oleh Kepala Negara.

“Anda jadi presiden untuk revolusi, kan Bung Karno itu revolusioner. Cuma Bung Karno nggak meneruskan, karena kepincut dengan kebesarannya,” tutupnya.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.