Geopark Natuna Mulai Dilirik UNESCO

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Geopark Natuna di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) menjadi kebanggaan tersendiri buat masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, Geopark Natuna ini berpotensi menjadi Geopark Internasional yang ditetapkan UNESCO.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri, Buralimar menjelaskan, Geopark Natuna memiliki keunikan tersendiri dengan jenis batuan yang ada di dalamnya. Perwakilan dari UNESCO bahkan telah sampai untuk melihat langsung potensi yang dimiliki Geopark Natuna ini.

“Sangat potensial karena hanya ada di Afrika dan Brazil kalau tidak salah, peneliti dari luar sudah datang dan tahu dengan batu-batu di sana, ada yang berumur sampai 200 tahun bahkan 2.000 tahun,” kata Buralimar di Batam, Jumat (5/4).

Buralimar melanjutkan, ada 20 lokasi yang berbeda dari geopark ini. Sejauh ini tantangan untuk menjadikan geopark ini berstatus geopark internasional adalah terjaganya 20 lokasi tersebut dari sentuhan manusia. Saat ini masih ada beberapa lokasi yang dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan mereka. Seperti bebatuan di salah satu lokasi yang dibakar untuk keperluan warga membuat rumah.

Upaya untuk menjaga lokasi yang resmi menjadi geopark nasional pada 30 November 2018 lalu ini, kata Buralimar, memang harus segera dilakukan. Prosesnya tentu dengan sosialisasi dan memberi pengarahan kepada warga sehingga tidak menimbulkan ketegangan di masyarakat.

Buralimar juga mengingatkan, jika nantinya sudah berhasil menjadi geopark internasional, semua pihak harus bisa ikut bersama-sama menjaga Geopark Natuna ini. Karena memang hal tersebut akan berkaitan dengan hukum internasional yang tentu penyelesaianya akan melibatkan dunia internasional.

“Kalau ditetapkan UNESCO sebagai geopark internasional lebih berat jaganya, agak sudah jaganya, tapi akan ada dukungan dari UNESCO,” tutur Buralimar.

Meskipun demikian, Buralimar juga mengapresiasi beberapa lokasi yang sejauh ini terawat bahkan sudah terkenal ke berbagai daerah. Salah satunya adalah kawasan Batu Alif (Alif Stone) yang menjadi destinasi wisata yang digandrungi turis ketika berkunjung ke Natuna.

Kawasan Alif Stone sendiri menawarkan pemandangan bebatuan dengan ukuran besar di bibir pantai. Alif Stone bahkan mendapat penghargaan bergengsi dunia pariwisata Indonesia dalam kategori wisata terunik dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) award pada 2018 lalu.

Kondisi ini, lanjut Buralimar, hendaknya berlaku juga oleh kawasan lain yang masuk dalam wilayah Geopark Natuna. Sehingga bisa menghadirkan kesan positif, dan memungkinkan hadirnya gerak perekonomian dengan banyaknya turis yang berkunjung ke wilayah tersebut.

Seperti Laif Stone ini, Buralimar menyampaikan bahwa masyarakat bisa memenfaatkan kawasan geopark ini namun tidak boleh mengganggu bebatuan yang ada di sana. Untuk memanfaatkannya tentu juga harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment