Kemendikbud Bakal Cari Mata Rantai Sejarah Peradaban Malang di Situs Sekaran

Jumat, 5 April 2019 - 14:25 WIB

Mendikbud Muhadjir saat meninjau situs Sekaran yang berada di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jumat (5/4). (Fisca Tanjung/JPC)

FAJAR.CO.ID, MALANG – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bakal mencari mata rantai dari peradaban sejarah bangsa Indonesia, khususnya yang berkembang di Malang dan sekitarnya melalui situs Sekaran yang ditemukan di pengerjaan tol Malang-Pandaan (Mapan) seksi 5. Salah satu upayanya yakni melakukan rekonstruksi bangunan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan rekonstruksi bangunan terhadap situs Sekaran. “Sekarang sudah jalan (rekonstruksi). Ini kan masih dalam proses ekskavasi,” ujarnya saat meninjau situs Sekaran yang berada di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jumat (5/4).

Pihak kementrian pun telah mengalokasikan anggaran untuk proses rekonstruksi. Hanya saja, Muhadjir belum bisa menyebutkan berapa besarannya. “Kita lihat nanti, belum kita pastikan. Karena harus bicara dulu dengan Pemerintah Kabupaten/Kota Malang juga dengan pemerintah provinsi,” terangnya.

Nantinya, yang bakal melakukan rekonstruksi tersebut yakni dari tim khusus kementerian atau Kepala Pusat Penelitian Arkeologi di Jakarta. Muhadjir menyebut, memang ada kesulitan untuk melakukan proses itu. Pasalnya, kondisi situs sudah hancur. “Karena sudah hancur, terutama sudah tidak ada lagi bangunan atas. Tapi kan masyarakat sini mungkin masih ada para sesepuhnya yang tahu sejarahnya, nanti kita rekonstruksi,” paparnya.

Menurutnya, situs ini merupakan bangunan peninggalan sebelum era Majapahit. Hal itu salah satunya diketahui dari temuan batu bata. “Ini anomali konteks dalam sejarah peradaban Malang, karena bangunan-bangunan candi dan situs-situs tempat persembahan ataupun tempat ibadah itu biasanya bahan bakunya dari batu gunung,” jelasnya.

“Tapi ini justru dari batu bata, tapi pengolahannya menggunakan teknologi tinggi. Karena kualitasnya saya amati, meskipun saya bukan ahli, mendekati keramik,” lanjutnya.

Muhadjir mengungkapkan, temuan situs ini bisa mengubah berbagai macam teori yang berkaitan dengan sejarah perkembangan tentang Malang dan sekitarnya. “Masih perlu waktu, ini akan kami kaji terus,” pungkasnya.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *