Penyidik Harus Menggali Fakta Hukum Atas Kematian Zulaeha

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Mantan pejabat UNM, Wahyu Jayadi, telah mengakui perbuatannya atas kematian Sitti Zulaeha Djafar. Namun, polisi diharap menggali fakta-fakta atas kematian ibu tiga anak itu. Sebab, bukan sekadar emosi. Ada motif lain.

Zulaeha meninggal pada 22 Maret lalu di tangan Wahyu Jayadi yang merupakan dosen yang mengajar mata kuliah karateka yang tentunya memiliki kemampuan bela diri yang andal dan cukup terlatih untuk menyerang titik mematikan tubuh korbannya.

Namun sebelum meninggal, tersangka mengajak korbannya keluar bersama mengendarai mobil milik korban sendiri. Lalu, Wahyu menitipkan kendaraannya sebelum naik ke mobil Zulaeha.

Selain bekerja di tempat yang sama, Zulaeha membeli rumah di depan rumah Wahyu yang diurus sendiri olehnya dengan metode angsuran. Pembayaran setiap bulan disetor oleh korban kepada tersangka untuk selanjutnya diteruskan kepada developer.

Pembayaran rumah itu sempat bermasalah ketika Wahyu tidak pernah lagi meneruskan pembayarannya kepada developer yang jumlahnya mencapai belasan juta, sehingga develover mendesak korban untuk segera melunasi tunggakannya.

Pihak keluarga hingga saat ini mengawal kasus tersebut, lantaran kematian Zulaeha masih menimbulkan tanya. Sebesar apa permasalahan yang dibicarakan sehingga Wahyu tega menghabisi Zulaeha? Apa hal itu tidak bisa dibicarakan di rumah, kantor? Mengapa harus menitipkan mobilnya? Mengapa harus satu mobil? Mengapa harus menuju ke sebuah perumahan yang tidak dikenalinya?

Pertanyaan itu sampai saat ini belum terjawab oleh pihak kepolisian. Maka melalui perwakilan keluarga, Amri Mahmud sangat mengharapkan agar polisi mencermati kejanggalan seperti masalah yang dibicarakan yang memicu hilangnya nyawa Zulaeha.

“Kematiannya ini kita masih penasaran, ini bukan emosi sesaat. Polisi juga kiranya agar mempertimbangkan pendapat dari keluarga, karena kita mengharapkan keadilan agar pelaku dihukum seumur hidup,” tutur Amri, saat dikonfirmasi FAJAR Minggu (7/4/2019).

Kata dia, sekiranya dibutuhkan saksi ahli maka pihak keluarga korban bersedia menghadirkan saksi ahli. Karena besar harapan keluarga digantung sepenuhnya sama penyidik. Keluarga juga sangat menuntut rasa keadilan.

Bahkan untuk membongkar kasus ini pihak keluarga meminta agar polisi mengungkap percakapan terakhir antara Zulaeha dan Wahyu. “Intinya pihak keluarga, aliansi mahasiswa, dan teman-teman yang lain yang peduli dengan kami akan terus mengawal kasus ini,” jelas Amri.

Terpisah, Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga mengatakan, sejauh ini kasus yang menjerat Wahyu Jayadi terus dikembangkan tim penyidik Polres Gowa. Utamanya motif sesaat yang membuat Wahyu kalap membunuh rekan kerjanya itu.

Begitu pula dengan keterangan yang sudah disampaikan suami korban, Sukri, bahwa istrinya sering curhat kepadanya soal pekerjaan. Seperti, adanya pekerja sertifikasi guru-guru SMA yang pernah mereka kerjasamakan.

“Sejauh ini sudah ada beberapa rekan korban dan pelaku serta keluarga yang sudah kita periksa untuk mencari kecocokan dengan apa yang sudah dikatakan suami korban,” tutupnya.

Kasat Reskrim Polres Gowa, Iptu Muhammad Rivai, mengatakan, sejauh ini sudah ada sembilan saksi yang sudah diperiksa masing-masing dari keluarga korban dan rekan kerja korban juga pelaku di UNM.

“Kita masih akan melakukan pemeriksaan saksi dari kedua rekan korban dan pelaku. Mencari data dan fakta motif yang sebenarnya,” ucapnya. (gun)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment