Ternyata Ada Surat SBY Soal Kampanye Prabowo, Begini Isinya

Minggu, 7 April 2019 - 19:47 WIB

FAJAR.CO.ID–Pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno telah menyelesaikan kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/4). Acara yang dihadiri oleh jutaan simpatisan Prabowo-Sandi itu pun berjalan lancai sampai penghujung akhir acara.

Namun siapa sangka, di balik pelaksanaan kampanye akbar tersebut, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat memprotes kampanye akbar yang dihadiri seluruh parpol mitra koalisi Prabowo-Sandi. Karena, acara tersebut dinilai tidak mencerminkan Kebhinekaan atau inclusiveness.

SBY mengirim sebuah surat terbuka yang beredar di kalangan awak media pada Minggu (7/4) dini hari. Tepatnya saat kampanye akbar tersebut tengah memasuki kegiatan salat subuh berjamaah. Surat itu sejatinya ditujukan untuk Ketua Wanhor Partai Demokrat Amir Syamsudin, Waketum Demokrat Syarief Hassan dan Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan.

SBY meminta ketiga kadernya itu memberikan masukkan kepada Prabowo Subianto untuk melaksanakan kampanye yang lebih mengedepankan Kebhinekaan atau inclusiveness. Hal itu dibutuhkan demi mencegah demonstrasi identitas yang berbasiskan agama, etnis, dan kedaerahan.

Protes yang dilakukan SBY setelah melihat rangkaian acara atau run down dari acara kampanye akbar Prabowo-Sandi. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang menjadi kesalahan dari run down acara tersebut. Bisa jadi, yang dimaksudkan SBY adalah acara tersebut terlalu menunjukkan nuansa “islami” dan tak universal terhadap seluruh agama.

“Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal “set up”nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap “Semua Untuk Semua” atau “All For All”,” katanya.

Dia mengatakan, calon pemimpin harus memiliki cara berpikir dan tekad menjadi pemimpin bagi semua. Atas dasar itu, kalau terpilih akan menjadi pemimpin yang kokoh dan berhasil.

“Pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal “kawan dan lawan” untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa,” ungkap dia.

Dikonfirmasi, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaen membenarkan surat yang beredar di kalangan awak media tersebut. Namun, kata dia, surat tersebut ditulis SBY semalam yang ditujukan untuk internal partai berlambang Mercy.

Intinya, kata Ferdinand, SBY meminta agar acara kampanye GBK dibuat berbhineka tunggal ika, dan tidak hanya milik satu kelompok saja. Apalagi, kalau sampai diidentikan dengan khilafah.

“Pak SBY menerima banyak informasi di Singapura seolah-olah hari ini kampanye dibuat seperti khilafah. Maka SBY mengirimkan surat kepada tiga kadernya, untuk menyampaikan kepada panitia dan kepada capres dan cawapres kita agar melaksanakan kampanye dengan Indonesia Raya,” katanya.

Pasca pelaksanaan acara tersebut, dirinya mengapresiasi kampanye akbar di GBK telah sesuai dengan prinsip dan ide yang diinginkan oleh SBY. Dia menimbang, salah satu segmen yang menunjukkan doa lintas agama pada kampanye akbar tersebut.

“Kita sudah melihat hasilnya yaitu kampanye dilakukan dengan baik. Berbhineka tunggal Ika, NKRI, dan berindonesia raya. Bahkan ada pembacaan doa mewakili kristen protestan, mewakili katolik, dan seluruh perwakilan agama diundang. Itulah wujud dari berbhineka tunggal ika,” terangnya.

Atas dasar itu, kata dia, seluruh saran yang diajukan oleh SBY sudah masuk kategori yang diharapkan. Di antaranya, membuat kampanye akbar yang menjunjung tinggi bhineka tunggal ika.

“Jadi tidak ada yang salah. Sebetulnya surat itu untuk internal. Saya tidak tau bocornya darimana, tetapi itu kepentingan internal dan sudah dilaksanakan hari ini pada kampanye,” pungkasnya.

Sementara itu, Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Nizar Zahro menyatakan kegiatan kampanye akbarnya telah menunjukkan sikap yang berbhineka tunggal ika. Hal itu pun telah sesuai dengan intruksi SBY.

“Dalam acara seremonial kampanye kita tetap tunjukkan sikap bhineka kita diantaranya doa lintas agama. Kita yang berbeda kumpul bersama dan bersatu untuk kemenangan 02,” katanya.

Di sisi lain, Nizar menyambut positif atas saran dan pendapat yang dilontarkan SBY mengenai kampanye akbar yang lebih inklusif. Bagi dia, kampanye memang harus merangkul semua golongan dan tidak boleh didominasi oleh satu kelompok atau satu agama saja.

Hanya saja, kata dia, adanya kegiatan salat Tahajjud dan soaat subuh berjamaah itu usulan yang datang dari peserta kampanye akbar. Karenanya, usulan tersebut harus dimaknai sebagai animu peserta untuk kemenangan pasangan 02.

“Mereka datang sejak Sabtu sore dan bermalam di GBK dengan berdzikir dan solat berjamaah. Kita tidak bisa juga mencegah animu ini. Sebagai kelompok yang menjungjung tinggi Kebhinekaan justru kita tidak bisa melarangnya,” pungkasnya. (jp)

Berikut surat lengkap yang ditulis oleh SBY kepada ketiga kadernya :

Kepada yang terhormat

1. Ketua Wanhor PD Amir Syamsudin

2. Waketum PD Syarief Hassan

3. Sekjen PD Hinca Panjaitan

Bismilahirrahmanirrahim

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Salam Sejahtera

Salam Demokrat!

Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu konsentrasi perjuangan politik jajaran Partai Demokrat di tanah air, utamanya tugas kampanye pemilu yang tengah dilakukan saat ini, karena terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019 yang lalu saya sudah memandatkan dan menugaskan Kogasma dan para pimpinan partai untuk mengemban tugas penting tersebut.

Sungguhpun demikian, saya tentu memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan agar kampanye yang dijalankan oleh Partai Demokrat tetap berada dalam arah dan jalur yang benar, serta berlandaskan jati diri, nilai dan prinsip yang dianut oleh Partai Demokrat. Juga tidak menabrak akal sehat dan rasionalitas yang menjadi kekuatan partai kita.

Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang “set up”, “run down” dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif, melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar. Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran.

Sehubungan dengan itu, saya minta kepada Bapak bertiga agar dapat memberikan saran kepada Bapak Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai Demokrat, untuk memastikan hal-hal sebagai berikut:

Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan “inclusiveness”, dengan sasanti “Indonesia Untuk Semua” Juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. “Unity in diversity”. Cegah demonstrasi apalagi “show of force” identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim.

Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal “set up”nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap “Semua Untuk Semua” , atau “All For All”. Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insya Allah akan berhasil.

Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal “kawan dan lawan” untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo.

Saya pribadi, yang mantan Capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai “pro Pancasila” dan “pro Kilafah”. Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu, saya justeru khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya.

Kita harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya.

The tragedy of devided nation. Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik. Seperti yang kita lakukan dulu pada pilpres tahun 2004, 2009 dan 2014. Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu di satu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti.

Para kader pasti sangat ingat, Partai Demokrat adalah partai Nasionalis-Relijius. Bagi kita Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati. Tidak boleh NKRI menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis. Indonesia adalah “Negara Pancasila” dan juga “Negara Berke-Tuhanan”. Inilah yang harus diperjuangkan oleh Partai Demokrat, selamanya.

Saya berpendapat bahwa juga tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah. Politik begini bisa menyesatkan. Sejak awal harusnya narasi seperti ini tidak dipilih. Tetapi sudah terlambat. Kalau mau, masih ada waktu untuk menghentikannya.

Dari pada rakyat dibakar sikap dan emosinya untuk saling membenci dan memusuhi saudara-saudaranya yang berbeda dalam pilihan politik, apalagi secara ekstrim, lebih baik diberi tahu , apa yang akan dilakukan Pak Jokowi atau Pak Prabowo jika mendapat amanah untuk memimpin Indonesia 5 tahun mendatang (2019-2024).

Apa solusinya, apa kebijakannya? Tinggalkan dan bebaskan negeri ini dari benturan identitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti rakyat. Sepanjang masa kampanye, bukan hanya pada saat debat saja.

Demikian Pak Amir, Pak Syarief dan Pak Hinca pesan dan harapan saya. Ketika saya menulis pesan ini, saya tahu AHY berada dalam penerbangan dari Singapura ke Jakarta, setelah menjenguk Ibu Ani yang masih dirawat di NUH. Partai Demokrat harus tetap menjadi bagian dari solusi, dan bukan masalah. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.

Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Singapura, 6 April 2019

Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.