Biaya Mahal Jadi Kendala Pemberian Imunoterapi Pada Pasien Kanker

Senin, 8 April 2019 - 10:16 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Saat ini kendala utama pemberian immunoterapi adalah biaya yang sangat mahal hingga mencapai ratusan juta rupiah. Dengan demikian, pemberiannya terbatas pada pasien dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Tanpa imunoterapi saja, pengobatan kanker sudah sangat mahal.

“Kanker membuat individu menjadi tidak produktif, dan biaya pengobatannya akan menguras keuangan,” sesal Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM dari FKUI/RSCM, spesialis onkologi medik baru-baru ini.

Selain itu belum banyak jenis kanker yang dapat dibuktikan akan baik dengan pemberian immunoterapi. Saat ini imunoterapi merupakan metode pengobatan kanker yang masih tergolong baru, dan berbagai pusat penelitian di seluruh dunia sedang mengumpulkan data angka keberhasilan untuk digunakan pada berbagai macam kanker.

“Penggunaan imunoterapi harus mengacu pada guideline yang baku, dan tidak boleh digunakan di luar itu kecuali dalam kerangka penelitian medis, dan dokter harus mengikuti standar prosedur yang baku,” tegas dr. Jeffry B. Tenggara, Sp.PD, KHOM, konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Hospitals.

Baca Juga
Harapan Menjanjikan dari Imunoterapi, Tak Sekadar Euforia
Imunoterapi Anti PD-1 Harapan Baru Bagi Penderita Kanker

Ia melanjutkan, kebutuhan imunoterapi di Indonesia sangat besar, apalagi ini digadang-gadang sebagai pengobatan masa depan untuk kasus kanker. Namun di Indonesia penggunaannya belum luas, masih terbatas, sehingga datanya belum banyak. Sebagai praktisi, dr. Jeffry berharap kehadiran imunoterapi dapat memberi kesintasan yang lebih baik.

“Harus dipahami bahwa imunoterapi bukan tanpa efek samping. Salah satunya, membuat sistem imun terlalu aktif. Padahal sistem kekebalan tubuh harus tetap seimbang. Jika terlalu berlebihan, bisa muncul efek samping seperti sesak napas pada saat diberikan imunoterapi, dermatitis, kulitnya bisa meradang. Hal ini berdasarkan pengalaman saya di MRCCC ini,” jelas dr. Jeffry.

Hal menarik disampaikan oleh dr. Andika. Ia menemukan, imunoterapi tak hanya meningkatkan PFS, tapi juga membuat kualitas hidup pasien lebih baik. Secara umum, efek samping dari imunoterapi tidak seberat yang ditimbulkan oleh kemoterapi. Pneumonitis (radang paru) dan radang/ruam pada kulit termasuk yang kerap muncul pada pemberian imunoterapi.

Menariknya, efek samping ini tidak terlihat pada pasien-pasien dr. Andhika. “Mungkin karena dosisnya kecil. Dosisnya itu 2 mg/kg berat badan. Bobot pasien Indonesia rata-rata rendah, jadi dosis yang diberikan hanya sekitar 100 mg,” paparnya.

Pasiennya yang diterapi dengan obat ini tetap bisa beraktivitas, tanpa keluhan efek samping. Selain itu, pemberian anti PD-1 di Indonesia juga relatif singkat. “Biasanya hanya delapan sampai dua belas kali, karena harga obatnya sangat mahal,” imbuhnya.

Sedangkan di negara maju, penggunaan anti PD-1 bisa sampai dua tahun, hingga penyakit kembali muncul. Ia melanjutkan, kanker itu never ending story. Belum ada obat yang bisa memusnahkan kanker 100%. Sedemikian canggih obat yang sudah ditemukan, tapi kemungkinan kanker kambuh atau bermetastasis tetap ada.

“Namun bagaimanapun, imunoterapi tetap menjanjikan. Perlu dukungan dari pemerintah, agar penelitian mengenai imunoterapi terus berkembang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.