SBY

0 Komentar

Oleh: Aidir Amin Daud

Sebuah peringatan yang baik bagi bangsa ini — dikeluarkan oleh Mantan Presiden RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Setidaknya kritik ini terkait dengan sikap berbangsa yang harus diambil oleh semua kelompok. Kebetulan kali ini — kritik atau mungkin bisa disebut otokritik datang dari SBY untuk kegiatan kampanye Prabowo-Sandi yang berlangsung Minggu dinihari hingga pukul 10 pagi itu.

***

SBY mengkritik konsep acara kampanye akbar pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta. SBY menilai konsep acara seolah hanya mewakili kelompok tertentu.

Setidaknya mungkin karena acara dimulai dengan shalat subuh berjamaah. Kampanye yang dilakukan Minggu kemarin disebut SBY, tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif. Melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat, SBY meminta konfirmasi apakah berita yang didengarnya itu benar?

Presiden ke-6 itu meminta agar konsep kampanye mencerminkan kebinekaan yang inklusif. Dia tak ingin ada kesan eksklusif untuk menggaungkan kelompok tertentu dengan basis kelompok agama tertentu.

Kita semua tentu sependapat dengan SBY bahwa adalah sesuatu yang arif jika kita mengakhiri demonstrasi apalagi show of force identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem.

Kita bersyukur memiliki ‘keberanian’ untuk melakukan kritik itu sebagai bagian dari upaya dia menjaga kesatuan berbangsa untuk tidak terjebak dalam suatu polarisasi yang tidak perlu. SBY yang partainya menjadi bagian dari Prabowo-Sandi sudah menperlihatkan sikapnya untuk mengingatkan sebuah potensi yang tidak tepat.

***

Makanya, kita juga berharap ada ‘tokoh’ di barisan Jokowi-Kiai Maruf yang mengingatkan jika ada sesuatu yang kurang tepat dari barisan ini. Pak JK pada beberapa kesempatan juga melakukan hal yang — meluruskan beberapa hal yang dinilainya tidak terlalu tepat. SBY maupun JK adalah simbol tokoh bangsa yang memang harus menjaga dan meluruskan setiap sikap yang tidak benar dan berpotensi mengancam kebersamaan bangsa ini.

Terlepas dari sikap nasionalis dan kebangsaan yang kita yakini dimiliki oleh Prabowo dan Sandi — SBY menilai pemilihan presiden yang segera dilakukan adalah untuk memilih pemimpin bangsa, dan rakyat. Sedari awal, menurut SBY harusnya konsep kampanye nasional seharusnya berkonsep merangkul semua pihak.

Dia menekankan pemimpin yang merangkul semua kalangan adalah modal pemerintahan yang kuat. Kita meyakini bahwa membiarkan sesuatu yang ‘tidak tepat’ adalah bom-waktu bagi bangsa ini. Namun pelaksanaan kampanye kemarin yang didahului dengan pembacaan doa dari berbagai agama — secara tuntas menghapus semua kekuatiran Pak SBY. Namun tak ada juga yang salah dari surat peringatan beliau. ***

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar