Agama dan Kohesi Sosial

Oleh: Muhammad Tariq (Guru Ponpes Ar-Rahman DDI Galla Raya, Pangkep)

Kemajemukan (pluralitas) bangsa Indonesia bukan sesuatu yang baru. Latar belakang sosio-kultural yang heterogen, sejatinya menjadi pemersatu nilai. Terutama dalam beragama.

Kemajemukan masyarakat Indonesia dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, majemuk secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan suku, agama, adat, serta kedaerahan. Kedua, secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan lapisan atas dan bawah yang cukup tajam.

Struktur inia tidak bisa ditafsirkan sebagai ancaman bagi kohesi sosial. Sebaliknya justru menjadi potensi besar pembentukan masyarakat yang demokratis, yang dicirikan terbangunnya civil society.Indonesia yang terbangun dari struktur negara bangsa (nation state) tak dapat menghindar dari keniscayaan kemajemukan itu.

Sejarah telah menorehkan realitasnya melalui wujud kemerdekaan sebagai hasil bahu-membahu kekuatan kemajemukan yang dimiliki bangsa ini. Dalam prinsip dasar demokrasi, pluralitas menjadi sebuah fenomena kunci, sebab hakikat berdemokrasi dalam sebuah negara bangsa ada pada transformasi nilai dari heterogenitas teritorial, sosial (SARA), dan budaya.

Saling Mengakui Transformasi itu berbentuk homogenitas politik sebagai konsensus untuk bersama-sama dalam sebuah bangsa, mencapai tujuan bersama. Di dalamnya ada hak dan kedudukan sama, serta saling mengakui keberadaan setiap elemen. Namun, heterogenitas ini hanya akan menjadi sebuah potensi kolektif jika telah terwujud dalam konsensus tujuan hidup bersama dengan jaminan tak akan ada negasi terhadap salah satu unsur.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...