Agama dan Kohesi Sosial

Selasa, 9 April 2019 - 07:13 WIB

Oleh: Muhammad Tariq (Guru Ponpes Ar-Rahman DDI Galla Raya, Pangkep)

Kemajemukan (pluralitas) bangsa Indonesia bukan sesuatu yang baru. Latar belakang sosio-kultural yang heterogen, sejatinya menjadi pemersatu nilai. Terutama dalam beragama.

Kemajemukan masyarakat Indonesia dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, majemuk secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan suku, agama, adat, serta kedaerahan. Kedua, secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan lapisan atas dan bawah yang cukup tajam.

Struktur inia tidak bisa ditafsirkan sebagai ancaman bagi kohesi sosial. Sebaliknya justru menjadi potensi besar pembentukan masyarakat yang demokratis, yang dicirikan terbangunnya civil society.Indonesia yang terbangun dari struktur negara bangsa (nation state) tak dapat menghindar dari keniscayaan kemajemukan itu.

Sejarah telah menorehkan realitasnya melalui wujud kemerdekaan sebagai hasil bahu-membahu kekuatan kemajemukan yang dimiliki bangsa ini. Dalam prinsip dasar demokrasi, pluralitas menjadi sebuah fenomena kunci, sebab hakikat berdemokrasi dalam sebuah negara bangsa ada pada transformasi nilai dari heterogenitas teritorial, sosial (SARA), dan budaya.

Saling Mengakui
Transformasi itu berbentuk homogenitas politik sebagai konsensus untuk bersama-sama dalam sebuah bangsa, mencapai tujuan bersama. Di dalamnya ada hak dan kedudukan sama, serta saling mengakui keberadaan setiap elemen. Namun, heterogenitas ini hanya akan menjadi sebuah potensi kolektif jika telah terwujud dalam konsensus tujuan hidup bersama dengan jaminan tak akan ada negasi terhadap salah satu unsur.

Pluralitas agama sebenarnya bukan fenomena baru bagi bangsa Indonesia. Selama Orde Baru saja, secara de jure diakui oleh pemerintah eksistensi lima agama dan bahkan puluhan, atau bahkan mungkin ratusan aliran kepercayaan. Setiap penduduk Indonesia menghadapi kenyataan pluralitas agama dalam kehidupan sehari-hari.

Bertetangga, bekerja, dan bersekolah dengan orang yang berlainan agama adalah suatu kenyataan yang dengan mudah ditemui dalam kehidupan keseharian. Pluralitas agama telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penduduk atau bangsa Indonesia. Menyangkal kenyataan ini adalah sebuah kenaifan atau bertentangan dengan sunnatullah.

Pluralitas agama menyimpan potensi sekaligus bahaya tersendiri. Bisa menjadi potensi yang kuat (integrasi), apabila dihargai dan diterima dengan bijaksana oleh segenap unsur masyarakat yang ada. Apabila hal ini terjadi, maka akan terbentuk sebuah mozaik kehidupan yang indah dan nyaman untuk dinikmati.

Di sisi lain, kemajemukan menyimpan potensi untuk menimbulkan masalah yang besar (konflik). Perberdaan-perbedaan ajaran agama, apabila tidak ditanggapi dengan bijaksana, maka dapat memicu sebuah pertikaian yang mendalam dan meluas. Tampaknya itu yang telah dan sedang terjadi pada bangsa ini.

Kesetaraan Manusia
Berbagai konflik sosial yang bernuansa agama telah meletus di beberapa wilayah di tanah air yang tentu saja berdampak pada integrasi bangsa. Mengingat pluralitas agama merupakan keniscayaan sosiologis, maka perlu ditingkatkan kedewasaan dalam menerima perbedaan dan memperluas wawasan paham keagamaan. Ini agar perbedaan yang ada bukannya menambah potensi konflik melainkan menjadikan pluralitas sebagai aset budaya dan politik.

Dalam pembangunan bidang politik, mestinya tokoh-tokoh agama berdiri paling depan dalam memperjuangkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia, karena mereka paling sadar akan hakikat kemanusiaan dan paling siap menerima perbedaan. Sayangnya, kadangkala agama, baik tokoh dan lembaganya, terperangkap pada kecenderungan sikap eksklusif sehingga akhirnya mereka bukannya sebagai problem solver, tetapi sebagai problem maker.

Salah satu sisi problematis dari keragaman tersebut adalah adanya potensi konflik. Tentu ini terasa aneh, karena ajaran agama mana pun selalu menekankan pada kesamaan dan kesetaraan manusia. Ini merupakan visi perenial semua agama. Potensi konflik dalam keragaman agama dengan demikian berada di luar wilayah perenial agama, tetapi lebih banyak terjadi pada wilayah konstruksi sosial.

Sesungguhnya, semua agama menganjurkan kepada umatnya untuk mengasihi sesama makhluk hidup dan bersikap positif terhadap alam. Harmoni kehidupan di dunia yang satu ini merupakan inti pesan agama-agama, khususnya agama langit (samawi). Semua umat beragama memiliki kewajiban mengimplementasikan ajaran dasar agama-agama itu di dalam kehidupan sehari-hari.

Primordialisme Positif
Menghargai pluralitas termasuk bidang pendidikan (akan memperkuat proses integrasi sosial (anak-anak dari etnis berbeda). Sama halnya dengan bidang agama, sebagai salah satu elemen primordialisme, memiliki peran “perekat” terhadap integrasi sosial.

Islam, dalam hal ini, sebagai kelompok mayoritas dianut penduduk Indonesia, memiliki peranan strategis dalam membina generasinya memperkuat integrasi sosial. Bertanggung jawab terdepan dalam membina dan memperjuangkannya. Secara konseptualteoritis, ajaran Islam sangat menjunjung tinggi nilai keragaman dan toleransi terhadappluralitas. Sebagai wahyu yang diturunkan bagi manusia, Islam telah menjadikan doktrin menyejarah dalam pluralitas.

Pluralitas seperti ini adalah gejala umum terjadi dalam kehidupan manusia, seperti pluralitas dalam berfikir, berperasaan, bertempat tinggal, dan berperilaku. Sumber dari Islam itu sendiri sesungguhnya bersifat tunggal, yakni ari dan bersandar pada Allah Yang Esa.

Namun, ketika doktrin itu menyejarah dalam masyarakat dan realitas kehidupan masyarakat, maka pemahaman, penafsiran, dan pelaksanaan sepenuhnya bersandar pada realitas tersebut. Manusia yang satu dengan manusia yang lain berbeda dalam pemikiran maupun kehidupan sosial-ekonomi,budaya, politik, dan geografis. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *