Agama Politik

Selasa, 9 April 2019 18:05

Oleh: Syamsuddin Radjab(Direktur Eksekutif Jenggala Center dan Dosen HTN UIN Alauddin, Makassar)

KAMPANYE  akbar pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Sandi pada Minggu (7/4/2019) di stadion utama GBK dipenuhi sesak peserta bak lautan manusia, meluber diluar stadion hingga ke jalan-jalan utama seputar Senayan. Mereka berdatangan dari pelbagai daerah sejak malam hari lalu shalat malam dan shalat subuh berjamaah.Saya memantau kegiatan kampanye politik tersebut melalui media online dan siaran langsung salah satu media tv nasional ditengah jelajah perjalananku di utara Kalimantan. Di salah satu warung kopi bersama masyarakat menyaksikan perhelatan akbar capres 02 itu menyampaikan orasi politiknya dengan gaya bahasa khasnya; agitatif, propagandis dan menggugah massa.Pernyataan retoriknya berupaya memancing emosi massa didepannya menyentil lautan manusia akan hidup semakin susah, korupsi pejabat, ketiadaan lapangan pekerjaan dan kemiskinan yang menurun. Menurun ke anak cucu dan cicit katanya. Sungguh dan benar-benar upaya membangkitkan emosi jiwa raga, menyudutkan kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat kebanyakan.Saya bahkan berupaya merekam pidato sang capres melalui tape recorder yang selalu ditangan saat bepergian kemana saja supaya bisa diputar ulang dan menyimaknya secara seksama pesan-pesan politik bersejarah itu. Saya kira sang capres juga kali pertama berpidato politik didepan luberan manusia yang memenuhi stadion GBK.Bayangan saya, seperti pidato-pidato para pesohor masyhur dunia lainnya menyampaikan orasi dengan suara lantang, memesona, dengan retorika tingkat tinggi yang mampu menggerakkan massa dan menggugah batiniah pendukungnya.

Komentar