Beda Kemarahan Jokowi dan Prabowo di Yogjakarta

Selasa, 9 April 2019 - 14:09 WIB

FAJAR.CO.ID – Di Stadion Kridosono Yogyakarta, Jokowi dan Pa Prabowo merilis intense emotional message. High pitch. Marah. Tidak serupa dan juga enggak sama. Jokowi marah karena merasa dirinya difitnah, direndahkan dan dihujat. Dia enggak tahan. Dia ingin lawan. “Ingat sekali lagi, akan saya lawan!” ancamnya.

Intonasi Pa Prabowo meninggi saat bicara seputar antek-antek asing dan kinerja buruk BUMN. Dia gregetan. Geram. Exploitation de l’homme par l’homme ada di negerinya. Ada oknum dalam polisi dan TNI.

Everyone has a breaking point. Kesabaran ada batasnya. Marahnya Jokowi bersifat self-centered. Pa Prabowo bicara nation-wide. Dalam psikologi, Jokowi’s wrath masuk kategori “Hasty and sudden anger” karena ditrigger oleh impulse for self-preservation.

Sedangkan expresi Pa Prabowo disebut “Settled and deliberate anger” i.e. reaksi yang dihasilkan oleh perceived deliberate harm atau unfair treatment by others.

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka. Tapi rakyatnya miskin. Asing mengeksploitasi sumber daya alam. Pejabat korup. Tebang pilih hukum. “Anger becomes righteous when you use it to defend the rights of another, without nursing any selfish motive,” kata Dada J. P. Vaswani.

Jokowi marah karena rakyat protes. Dia merasa kritik dan protes adalah hinaan, hujatan dan fitnah. “Anger is designed to protect the self, and, in doing so, results in a greater willingness to take risks,” kata Lerner & Keltner.

Demi protect the self, Jokowi akan melakukan greater willingness to take risks. Yang dia lawan ya rakyatnya sendiri. To protect the law and the nation, Pa Prabowo juga akan melakukan greater willingness to take risks. Yang dia lawan ya pihak asing, exploiters, komprador dan koruptor lokal.

Ada konsensus di antara ahli psychology. Actually, anger is a good emotion that sometimes is misunderstood or irrationally misused. Jokowi’s irrational misused of anger tampak mengerikan. Bila dikasih kekuasaan lebih, dia berpotensi menjadi tiranik. Just like Nero.

Semua protes rakyat yang diinterpretasi Jokowi sebagai fitnah dan hujatan berlangsung selama 4,5 tahun. Artinya, tidak ada evalusi diri dan internal correction. Enggak ada perubahan. Jokowi tetap melakukan apa yang menjadi sumber gugatan.

Listen Jokowi, As Aristotle has said, “You are what you repeatedly do”.

Penulis adalah aktivis Tionghoa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *