Facebook dan Google Dinilai Tidak Aman

Selasa, 9 April 2019 - 19:32 WIB
Ilustrasi: logo Facebook. ((The Verge))

FAJAR.CO.ID–Pemerintah Inggris berencana menghukum perusahaan teknologi Facebook dan Google. Hal ini dilakukan lantaran kedua raksasa teknologi tersebut dianggap gagal mengekang penyebaran konten berbahaya di platform mereka.

Seperti yang dijanjikan, Inggris berusaha untuk memberdayakan regulator independen untuk menegakkan aturan yang menargetkan materi kekerasan, posting yang mendorong bunuh diri, disinformasi, cyber-bullying, dan eksploitasi anak.

Sebagaimana JawaPos.com kutip dari AssociatePress via Engadget, Selasa (9/4), selama beberapa minggu mendatang, pemerintah Inggris akan berkonsultasi tentang jenis-jenis hukuman terhadap Facebook dan Google yang lalai.

Hukuman tersebut termasuk denda, memblokir akses ke situs, dan meminta anggota senior perusahaan teknologi itu bertanggung jawab atas kegagalan mereka.

Baik Facebook dan Google sebelumnya telah menolak bertanggung jawab atas konten yang diterbitkan di platform mereka. Penolakan tersebut rupanya membuat panas hubungan antara Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Inggris menuduh platform Facebook dan Google memungkinkan penjahat untuk menyebarkan terorisme hingga pandangan ekstremis. Yang terbaru adalah live streaming aksi brutal penembakan di Selandia Baru. Namun kedua perusahaan yang berbasis di AS itu menolak tuduhan tersebut.

Google telah dipanggil untuk penyebaran teori konspirasi di YouTube. Twitter pun ikut terseret lantaran dianggap telah lama bergulat dengan penyalahgunaan obat-obatan di situsnya.

Sementara sejauh ini, Inggris telah melakukan langkah-langkah baru yang merupakan bagian dari ‘Online Harms White Paper’. Ini merupakan proposal bersama dari Departemen Digital, Budaya, Media dan Olahraga (DCMS) Inggris dan Home Office, serta telah menerima restu dari Perdana Menteri Inggris Theresa May.

“Internet bisa menjadi brilian dalam menghubungkan orang di seluruh dunia. Tetapi terlalu lama perusahaan-perusahaan ini tidak melakukan cukup banyak untuk melindungi pengguna, terutama anak-anak dan orang muda, dari konten berbahaya,” kata May dalam sebuah pernyataan.

“Itu tidak cukup baik, dan sekarang saatnya untuk melakukan hal-hal yang berbeda. Kami telah mendengarkan kampanye dan orang tua, serta menempatkan kewajiban hukum untuk menjaga perusahaan internet agar orang tetap aman,” tegasnya.

Awal tahun ini, DCMS menyebut manajemen senior Facebook sebagai ‘gangster digital’ dalam laporannya tentang berita palsu online. Dia menambahkan bahwa CEO Facebook Mark Zuckerberg telah menunjukkan ‘penghinaan yang disengaja’ terhadap parlemen Inggris dengan dua kali gagal tampil di hadapan komite.

Instagram milik Facebook juga baru-baru ini dipaksa untuk menghapus gambar yang dapat merugikan penggunanya. Ini setelah peristiwa bunuh diri anak sekolah Inggris Molly Russell. Orang tuanya mengatakan kematian anaknya sebagai akibat melihat gambar-gambar yang mencelakai diri di Instagram dan Pinterest. (jpc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.