Kampret vs Cebong

Oleh: Nurul Ilmi Idrus

Kampret dan kecebong (disingkat cebong) adalah dua istilah populer (terutama di media sosial) yang muncul seiring dengan terbelahnya masyarakat menghadapi Pilpres. Tidak jelas sejak kapan kedua istilah ini muncul. Ada yang menganggap ini terjadi sejak Pilpres 2014 ketika Jokowi dan Prabowo pertama kali bertarung, ada juga yang menganggap bahwa ini baru populer jelang Pilpres 2019.

Jika kampret merupakan sebutan bagi pendukung Prabowo-Sandi, maka cebong diasosiasikan untuk pendukung Jokowi-Ma’ruf. Sejumlah tokoh masyarakat maupun tokoh partai mengkritik sebutan tersebut, namun makin mendekati 17 April 2019, istilah tersebut bahkan makin sering digunakan dan “perseteruan” di antara kampret dan cebong makin tajam.

Apapun yang dikatakan kubu yang satu, akan dikomentari negatif kubu yang lain. Apapun kegiatan dari kubu yang satu, akan dicela kubu yang lain. Bahkan, apapun bahasa tubuh masing-masing calon, akan dikomentari dari sisi negatif. Benar/tidaknya apapun yang ditampilkan capres-cawapres yang diidolakan masing-masing bukan hal penting. Kampret maupun cebong merasa bahwa pilihan mereka adalah pilihan yang paling tepat dan benar, dan ini ditunjukkan dengan berbagai cara.

Kefanatikan terhadap salah satu kubu menyebabkan kampret dan cebong melihat bahwa capres-cawapres yang didukungnya ibarat manusia sempurna tanpa cela, sementara capres-cawapres kubu sebelah ibarat manusia penuh cela. Dari sisi kampret, Jokowi adalah presiden boneka, pembohong, penuh kegagalan dan pencitraan dan pasangannya terlalu tua untuk jabatan wapres. Sementara dari sisi cebong, Prabowo adalah capres tanpa prestasi, tak layak menjadi pemimpin karena pernikahannya yang gagal, dan memiliki masalah HAM di masa lalu, dan wapresnya dianggap sebagai calon yang lari dari tanggung jawab karena meninggalkan jabatan wagub demi pencalonan dirinya sebagai wapres Prabowo.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...