Kampret vs Cebong

Selasa, 9 April 2019 - 07:11 WIB

Oleh: Nurul Ilmi Idrus

Kampret dan kecebong (disingkat cebong) adalah dua istilah populer (terutama di media sosial) yang muncul seiring dengan terbelahnya masyarakat menghadapi Pilpres. Tidak jelas sejak kapan kedua istilah ini muncul. Ada yang menganggap ini terjadi sejak Pilpres 2014 ketika Jokowi dan Prabowo pertama kali bertarung, ada juga yang menganggap bahwa ini baru populer jelang Pilpres 2019.

Jika kampret merupakan sebutan bagi pendukung Prabowo-Sandi, maka cebong diasosiasikan untuk pendukung Jokowi-Ma’ruf. Sejumlah tokoh masyarakat maupun tokoh partai mengkritik sebutan tersebut, namun makin mendekati 17 April 2019, istilah tersebut bahkan makin sering digunakan dan “perseteruan” di antara kampret dan cebong makin tajam.

Apapun yang dikatakan kubu yang satu, akan dikomentari negatif kubu yang lain. Apapun kegiatan dari kubu yang satu, akan dicela kubu yang lain. Bahkan, apapun bahasa tubuh masing-masing calon, akan dikomentari dari sisi negatif. Benar/tidaknya apapun yang ditampilkan capres-cawapres yang diidolakan masing-masing bukan hal penting. Kampret maupun cebong merasa bahwa pilihan mereka adalah pilihan yang paling tepat dan benar, dan ini ditunjukkan dengan berbagai cara.

Kefanatikan terhadap salah satu kubu menyebabkan kampret dan cebong melihat bahwa capres-cawapres yang didukungnya ibarat manusia sempurna tanpa cela, sementara capres-cawapres kubu sebelah ibarat manusia penuh cela. Dari sisi kampret, Jokowi adalah presiden boneka, pembohong, penuh kegagalan dan pencitraan dan pasangannya terlalu tua untuk jabatan wapres. Sementara dari sisi cebong, Prabowo adalah capres tanpa prestasi, tak layak menjadi pemimpin karena pernikahannya yang gagal, dan memiliki masalah HAM di masa lalu, dan wapresnya dianggap sebagai calon yang lari dari tanggung jawab karena meninggalkan jabatan wagub demi pencalonan dirinya sebagai wapres Prabowo.

Ini mengakibatkan jika ada kekurangan yang ditampilkan oleh pasangan yang diidolakan yang seharusnya diperbaiki justru terabaikan karena kampret maupun cebong berfokus pada bagaimana mencela kubu lain. Padahal dengan persaingan yang sangat tajam antar Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf, seharusnya masing-masing berfokus memperebutkan suara dari swing voters dan undecided voters. Keduanya merupakan orang yang tidak puas dengan kinerja pemerintah dan kurang “sreg” dengan kandidat yang lain. Segmen terbanyaknya adalah kaum millenial, kaum kritis yang sulit diyakinkan tanpa rasionalitas program yang ditawarkan, namun persentasenya tersisa di kisaran 10-15 persen.

Yang paling penting adalah bagaimana “menyeberangkan” suara pemilih dari kubu sebelah, bukan menghabiskan waktu dengan perang urat syaraf yang bisa jadi menghilangkan simpati orang yang masih ragu, atau bahkan membuat mereka yang berada di kubu yang sama justru berpindah ke lain hati. Mari berdamai dengan diri sendiri dan menciptakan Pilpres yang damai dan berkesan, will you? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *