MANTAN MANTEN, Perjuangan Menata Hati Sang Perias

1 Komentar

INI kisah tentang  wanita yang berada di titik terendah, tak berdaya karena cinta dan keserakahan oleh orang-orang yang dipercaya. Hati yang hancur dan remuk, mungkinkah dapat ditata kembali untuk bangkit? Film “Mantan Manten” menyajikan kisah tentang pengkhianatan cinta yang tak biasa.

Adalah Yasnina (Atiqah Hasiholan), seorang wanita karir yang mempunyai posisi tinggi di sebuah perusahaan ternama. Hidupnya terpandang dan serba glamour. Suatu ketika harus menghadapi kenyataan. Ia dikhianati Iskandar atasannya sendiri, karirnya hancur total. Tentu saja ini adalah  pergumulan berat dalam hidupnya. Kehilangan status sosial, juga kisah cintanya yang berantakan. Sang kekasih, Surya (Arifin Putra) mulai menjauh.

Gaya hidupnya berubah total, Yasnina benar-benar bangkrut. Satu-satunya harta yang dimiliki adalah sebuah rumah  di Solo yang dibelinya, namun belum balik nama. Ia harus menjualnya, demi membayar pengacara untuk melawan atasannya lewat jalur hukum.

Namun, rencana Yasnina tidak berjalan mulus. Pertemuannya dengan Marjanti (Tutie Kurana) justru membuat masalahnya makin rumit. Marjanti justru tidak rela rumahnya dilepas pada Yasnina. Ada sejumlah syarat yang diajukan. Yasnina harus rela menjadi asisten Marjanti sebagai Paes (penata rias pengantin Jawa) jika ingin mendapatkan rumah tersebut. Mampukah Yasnina menjadi Paes? Bagaimana kisah cintanya kemudian? Saksikan perjuangan sang perias menata hatinya yang hancur lewat film ini.

Kisah tentang penata rias pengantin Jawa memang tidak pernah diangkat ke layar lebar, menjadi daya tarik tersendiri. Film yang kental dengan budaya Jawa ini mengupas kehidupan Sang Paes secara mendalam. Bagaimana proses menjadi Paes yang skaral, hingga ia menjadi pemandu sebuah pernikahan. Penonton juga diajak menyaksikan pergulatan dua wanita (Yasnina dan Marjanti) dengan sikap dan prinsip yang berbeda.

Film ini merupakan debut sutradara Farishad Latjuba, skenarionya ditulis bersama Jenny Jusuf. Banyak kekuatan film ini yang dilewatkan begitu saja. Skenario yang dimaksud ‘menendang’ emosi penonton dibiarkan datar, kurang greget dan terasa kurang menggetarkan.

Untungnya kekuatan akting Atiqah Hasiholan dan Tutie Kirana yang memikat bisa menjadi pengatur tempo yang datar. Juga berkat kehadiran komika Dodit, film tetap menghibur. Harus diakui, “Mantan Manten” cukup sukses membuat penonton duduk manis, sekali lagi berkat akting Atiqah yang jempolan. Sejak berakting di industri film pada 2006 lewat film “Berbagi Suami”, Atiqah sudah mendapat 6 kali  nominasi Piala Citra. Ia juga menyabet beberapa penghargaan film bergengsi lainnya. (*)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...