Debat Pamungkas, Jokowi Andalkan Dana Desa dan Program-program Kesra

Rabu, 10 April 2019 - 09:50 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Debat pamungkas capres dan cawapes akan digekar pada Sabtu (13/4). Temanya adalah ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri.

Dalam debat pamungkas itu, pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin bakal mengeluarkan jurus saktinya. Salah satunya yaitu menyampaikan program-program yang telah dikerjakan Jokowi di periode pertama.

“Kita juga bisa melihat sejumlah program yang telah diluncurkan Presiden Jokowi terkait kesejahteraan masyarakat, seperti dana kesehatan, sekolah, dan dana desa. Lagi-lagi ini bisa dibuktikan, bukan sekadar diucapkan,” ujar juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi- Ma’ruf Amin, Meutya Hafid saat dihubungi, Rabu (9/4).

Menurut Meutya, yang dilakukan Jokowi adalah bukti, bukan janji-janji. Misalnya pembangunan infrastruktur seperti jalan-jalan di daerah. Infrastruktur ini merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi.

‎”Pak Jokowi sudah membuktikannya. Kita bisa melihat secara seksama di sekitar kita bagaimana infrastruktur penunjang ekonomi kerakyatan dibangun,” katanya.

‎Terpisah, pengamat politik dari The Habibie Insititute, Bawono Kumoro‎ mengatakan memang pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin lebih banyak berbicara gagasan ketimbang rivalnya, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Jadi, sangat wajar apabila survei menunjukkan Jokowi selaku petahana masih unggul cukup jauh dari Prabowo Subianto,” katanya.

Ini senada dengan laporan The Economist Intelligence Unit yang memprediksi Jokowi bakal menang di pilpres 2019. Ada tiga faktor The Economist menempatkan Jokowi sebagai pemenang pilpres.

Pertama, Jokowi didukung oleh banyak partai politik dan legislator yang ada di baliknya. Kedua, keberhasilan Jokowi dalam menjaga kondisi ekonomi makro serta peningkatan pada bidang kesehatan dan edukasi, jadi modal elektoral yang kuat.

Ketiga, Jokowi juga dinilai berhasil mengubah secara gradual kondisi infrastruktur nasional. Bawono menjelaskan, selama lima tahun terakhir, Jokowi sudah melakukan banyak gebrakan luar biasa yang manfaatnya bisa dirasakan tak hanya oleh masyarakat di Pulau Jawa.

“Pembangunan infrastruktur yang dilakukan masif dan pesat dapat dirasakan oleh publik secara luas, bahkan oleh warga yang tinggal di luar pulau Jawa,” ungkapnya.

Atas dasar itu, menurut Bawono, wajar jika dukungan kepada Jokowi terus mengalir mulai dari kalangan profesional, almunus kampus-kampus ternama, ormas, hingga komunitas warga negara Indonesia di luar negeri.

Dalam hal basis dukungan, kata dia, Jokowi-Ma’ruf juga didukung kelompok-kelompok yang lebih plural atau majemuk. Berbeda dari kubu penantang yang semakin terkesan eksklusif.

“Pasangan Prabowo-Sandi seperti hendak menegaskan diri sebagai pemimpin bagi satu kelompok saja,” ungkapnya.

Padahal, menurut Bawono, kesan eksklusifitas dukungan yang sangat terlihat di kubu 02 bisa menjadi bumerang di tengah tuduhan politik identitas yang sering disematkan kepada Prabowo-Sandi.

Lantas bagaimana dengan survei Puskaptis yang justru memenangkan pasangan Prabowo-Sandi 47 persen dan Jokowi-Ma’ruf 45 persen? Menurut Bawono, masyarakat sendiri yang akan menilai dengan melihat kredibilitas rekam jejak dari lembaga yang melakukan jajak pendapat.

“Kredibelitas lembaga survei ini sudah diketahui publik, bahwa tahun 2014 lalu pernah terbukti melakukan quick count dengan hasil berkebalikan dari hasil real count KPU. Jadi, penting juga mengetahui kredibilitas lembaga survei karena survei ini adalah persoalan ilmiah dan akademis sehingga kredibilitas sumber harus tidak boleh ada keraguan,” pungkasnya.

(jpc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *