Pak Polisi ini Banyak dari Terinspirasi dari Memelihara Burung

Rabu, 10 April 2019 - 14:45 WIB
Kombes Pol Hermawan

Cerewet. Setiap hari berkicau. Dipelihara dan dirawat sangatlah ribet. Lebih ribet daripada pistol. Begitulah burung hias.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Hobi memelihara burung hal biasa. Sebagian besar pria pasti gemar dengan hewan satu ini. Tak terkecuali, Hermawan. Perwira Polri berpangkat Komisaris Besar Polisi. Jabatannya Direktur Direktorat Reserse Narkoba di Polda Sulsel.

Beberapa waktu lalu, ia terlihat memainkan gawai di ruang kerjanya. Serius. Tidak juga. Slide demi slide dari dokumentasi foto di galery ponselnya dibuka. “Hanya foto-foto burung, Mas,” katanya saat ditemui di Lantai III Polda Sulsel.

Ada banyak gambar burung yang dilihatnya. Warnanya beragam. Jenisnya, mulai dari murai batu, lovebird, hingga perkutut. “Ini peliharaan saya. Saat pangkat masih Kompol, 2016, saya mulai hobi pelihara burung,” paparnya.

Mendengar beberapa video, rerata koleksi burung milik pria kelahiran Makassar, 30 Agustus 1971 ini, boleh dikata tipe cerewet. Betapa tidak. Ia terus berkicau. Tak Mau henti. Paruhnya pun bergerak seakan tak mau berhenti.

Akan tetapi, jika didengar secara seksama, kicauan burung-burung milik pria yang dikarunia empat orang anak dari pernikahannya bersama Liliana Muallim ini, sangatlah merdu. Ada kekhasan dari masing-masing burung.

Baik burung murai batu, kenari, hingga lovebird. “Suaranya merdu. Membuat kepenatan usai beraktivitas seharian sirna seketika. Tidak ada lagi istilah stres,” paparnya.

Tipe burung yang dimilikinya ini merupakan hewan dengan harga yang lumayan tinggi. Tentunya jika sudah memiliki suara yang merdu. Apalagi jika pernah memenangkan kontes.

Untuk mendapatkan burung-burung koleksiannya ini juga tidaklah mudah. Sebut saja, burung Lovebird. Dahulu, untuk mendapatkan burung jenis ini harus diimpor. Maklum asalnya dari Afrika.

“Tadinya burung lovebird banyak diimpor. Sama seperti (burung) kenari. Sekarang sudah banyak penangkarannya di sini,” tuturnya.

Soal nilai burung peliharaannya, ia enggan mengomentarinya. Hanya ada satu dalam benaknya. Pemeliharaannya. Perawatannya begitu rumit. Tersulit adalah konsistensi. Memberikan makan sesuai kondisi.

Tidak boleh kebanyakan jangkrik. Penjemuran harus diatur, memandikannya juga harus disangkarnya. “Itu baru dalam perawatan. Kalau tidak dimandi setiap hari, tidak dijemur bisa mudah mati,” bebernya.

Baginya, teknik perawatan burung, hampir sama dengan target operasi. Harus terencana dengan baik, teliti, konsisten, dan tidak boleh sembarangan. Taktiknya harus tepat.

“Kalau melakukan penyelidikan sembarangan nanti yang ada anggaran pemerintah keluarnya cuma-cuma,” sebut lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994 itu.

Sebagai penghobi burung, ia juga tak lepas untuk mencari bentuk kicauan. Salah satu tipsnya, burung harus terkena embun pagi. Biar hasilnya lebih maksimal. Lebih cepat mendapat kicauan terbaik. Sebab, kicauan itu yang penting.

“Itu yang kami kejar. Dibanding pistol, lebih ribet memelihara burung. Semua harus dirawat,” ungkap mantan Kasubdit Bankum BNN ini. Namanya penghobi pastinya ada tempat penyalurannya.

Selain mendengarkan kicauannya di rumah, lebih maksimal adalah dibawa ke arena lomba. Karena rawatan mereka dinikmati di lomba. Apalagi, ada kebanggaan tersendiri jika juara.

“Dari kegiatan kicau mania diperlombakan sampai piala presiden, kapolri, piala raja Hamengkubuwono, dan piala kapolda, burung-burung itu sudah diikutkan,” paparnya

Tak seperti, ocehan-ocehan di media sosial yang lebih cenderung mengarah pada stres, kicau burung selalu merdu. Membuat kepenatan sirna. Juga, bisa menjadi lapangan kerja baru untuk masyarakat.

“Ada beberapa pabrik makanan burung yang terbuka. Pegawainya terus bertambah. Bisa juga usaha sangkar burung hias. Sebelumnya kan tidak ada. Sekarang sudah ada ribuan. Ini salah satu bukti membuka lapangan kerja baru,” kunci Ketua Asiosasi Burung Kicau se-Indonesia itu. (*/abg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *