Pengeroyokan Siswi SMP Terungkap Setelah Audrey Muntah-muntah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Audrey, siswi SMP di Pontianak, menjadi korban penganiayaan yang dilakukan 12 siswi SMA pada Jumat (29/3) lalu. Pihak keluarga korban tetap akan menempuh jalur hukum.

Sang ibu, Liliek Mailani menyebut, apa yang menimpa anaknya ini sebenarnya juga pernah dirasakan oleh korban-korban yang lain. Hanya saja, sebelumnya tidak ada yang berani berbicara. Termasuk AU sendiri, yang awalnya sempat diancam agar tidak melapor ke siapapun

“Anak saya juga sempat dalam pengancaman para pelaku itu, jangan dilaporkan kalau dianiaya baik ke orang tua atau saudara. Anak saya dalam tekanan,” ucapnya.

Namun akhirnya cerita itu terbongkar lima hari kemudian, Rabu (3/4). Diawali muntah-muntah saat pagi hari, AU akhirnya bercerita ke sang ibu, apa penyebab dari sakitnya tersebut. Dari sanalah kemudian diketahui semua kejadian yang menimpa siswi kelas 8 SMP itu.

Atas kejadian ini, pihak keluarga tetap akan menempuh jalur hukum. Apalagi AU menurutnya tidak kenal dan sebelumnya tidak pernah berurusan dengan para pelaku.

“Kami tetap melanjutkan proses hukum, laporan di Polresta sudah kemarin, kami di sana dulu, kalau memang lambat juga kami naikan ke Polda,” ungkapnya.

Liliek berharap ke depan, jangan sampai terjadi lagi korban seperti AU yang lain. Meski ia mengaku tidak tega jika para pelaku ini dihukum, tapi yang paling penting ia menekankan harus ada efek jera.

Apalagi dari informasi yang didapatkannya para pelaku sudah sering melakukan tindak kekerasan. Membuat geng yang sering meneror para pelajar wanita.

“Mereka (pelaku) ini pergaulannya sudah luas, saya sudah dengar mereka begini begitu, jadi banyak sekali simpatisan yang pernah dibantai sama mereka datang ke sini,” ujarnya.

Yang pasti semua proses akan ia serahkan ke penegak hukum. Apapun hasilnya pihak keluarga tetap akan menerimanya. “Tetap serahkan ke pihak berwajib dan kami tidak mau damai,” ucapnya.

Sementara untuk kesehatan sang anak ia mengaku secara fisik mulai pulih. Hanya menyisakan trauma yang cukup mendalam, sehingga korban terus didampingi oleh psikolog untuk proses penyembuhannya. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...