Keroyok Audrey, Tersangka: Saya Menyesal

0 Komentar

FAJAR.CO.ID–Pelajar SMA yang jadi tersangka pengeroyokan Audrey, seorang siswi SMP meminta maaf di Polres Pontianak. Para tersangka pandangannya terus tertuju ke bawah. Di balik masker yang menutupi wajah, dia menjelaskan perkara yang tengah dihadapi.

“Saya meminta maaf atas perlakuan saya terhadap AU. Saya menyesal,” ucapnya. Permintaan serupa diungkapkan enam pelajar lain yang juga dihadirkan. Mereka mengaku bersalah. Mengakui telah terjadi penganiayaan meski tidak membenarkan semua informasi yang telah beredar luas.

Status kasus tersebut kini telah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Polresta Pontianak sudah menetapkan tiga tersangka, yakni FZ alias LL, 17; TR alias AR, 17; dan NB alias EC, 17.

Kapolresta Pontianak, Kombes Muhammad Anwar Nasir menjelaskan, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka berdasar hasil penyelidikan. Juga adanya pengakuan tersangka. Bentuk penganiayaan yang dilakukan tersangka ialah menjambak rambut, mendorong sampai terjatuh, memiting, memukul, dan melempar sandal. “Mereka mengaku telah melakukan penganiayaan, tetapi tidak secara bersama-sama atau mengeroyok,” kata Anwar.

Ketiga tersangka dijerat pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 3 tahun 6 bulan. “Kategori penganiayaan ringan berdasar hasil visum yang dikeluarkan hari ini (kemarin, Red) oleh rumah sakit,” ucapnya.

Anwar menegaskan, hasil visum yang diterima menunjukkan tidak ada permukaan yang sobek maupun memar pada bagian organ kelamin korban. “Kemudian, dari pengakuan korban juga tidak ada pemukulan di bagian kelamin. Lima saksi yang diperiksa juga (mengatakan, Red) tidak ada perlakuan penganiayaan terhadap kelamin korban,” ungkapnya.

Mantan Kapolres Sidoarjo itu menyatakan, pihaknya sudah melakukan olah TKP. Selanjutnya, juga dilakukan rekonstruksi. “Agar ada persesuaian,” imbuhnya.

Mengenai motif penganiayaan, Anwar mengungkapkan, ada rasa dendam dan kesal tersangka terhadap korban. Menurut keterangan tersangka, korban kerap menyindir soal pacar.

Sesuai sistem peradilan anak, proses diversi akan diterapkan pada anak yang melakukan tindak pidana yang hukumannya di bawah 7 tahun. Anwar juga memastikan bahwa dalam pemeriksaan ada pendampingan dari orang tua, bapas, serta Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD).

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono menegaskan, upaya penegakan hukum dilakukan untuk memberikan efek jera. Namun, itu tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku maupun aspek psikologis dari korban dan pelaku.

“Pelaku masih di bawah umur. Tentu nanti proses penegakan hukum akan terus didampingi KPPAD Kalbar,” katanya setelah menjenguk korban di rumah sakit kemarin. “Kami akan dalami, mengapa mereka bisa melakukan perbuatan seperti ini kepada teman,” lanjutnya.

Pihaknya mengajak untuk mengawal penanganan kasus tersebut. Selain untuk memberikan efek jera, tujuannya adalah ada edukasi kepada anak-anak sehingga kasus serupa tidak terulang.

Satu di antara tujuh pelajar yang dihadirkan di mapolresta kemarin juga mengaku telah menjadi korban atas tuduhan yang keliru. “Saya dituduh sebagai pelaku. Padahal, saya tidak di lokasi,” ungkapnya.

Mereka juga mengaku mendapat intimidasi setelah kasus tersebut viral. Di media sosial, mereka memperoleh banyak komentar dari netizen. Bahkan, dengan kata-kata yang tidak pantas. “Kami juga menjadi korban,” kata salah seorang pelajar.

Meski begitu, tersangka mengakui perbuatannya terhadap AU. Tersangka menyebut dua lokasi penganiayaan. Di lokasi pertama, korban dianiaya satu tersangka. Lalu, di lokasi kedua, penganiaya melibatkan dua orang. Tiga orang itulah yang kini ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut keterangan salah seorang tersangka, penganiayaan itu bermotif sakit hati. Dia menyebutkan korban kerap mengungkit-ungkit persoalan piutang yang pernah dilakukan almarhumah ibu tersangka. “Dia suka bilang bahwa mama saya suka pinjam uang,” katanya.

Dia mengakui, AU adalah temannya. “Kalau AU tidak membuat omongan seperti ini, saya juga tidak akan melakukan hal ini. Saya kesal sampai saya tidak bisa mengontrol emosi,” ucapnya.

Sebelum memberikan keterangan di mapolresta, keluarga dan para pelaku penganiayaan mendatangi kantor KPPAD Kalbar untuk meminta perlindungan.

Ketua KPPAD Kalbar, Eka Nurhayati mengungkapkan, para pelaku mengalami trauma berat akibat ancaman. “Kami didatangi pihak keluarga pelaku sejak tadi pagi (kemarin, Red). Mereka datang karena ingin mengungkapkan si pelaku ini sekarang sedang dalam tekanan luar biasa,” ujarnya.

Atensi Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut memberikan perhatian pada kasus penganiayaan AU. Dia telah memerintah Kapolri Jenderal, Tito Karnavian memproses kasus tersebut. “Saya sudah perintah Kapolri untuk tegas menangani ini sesuai dengan prosedur hukum. Tegas,” ujarnya di Istora Senayan, Jakarta, kemarin.

Jokowi mengingatkan, kasus itu harus menjadi pelajaran bagi masyarakat. Sebab, saat ini pola interaksi sosial di masyarakat sudah berubah menyusul adanya media sosial dan perkembangan teknologi lainnya. “Ini ada masa transisi yang kita harus hati-hati,” tuturnya.

Mantan gubernur DKI Jakarta tersebut berharap guru dan orang tua bisa merespons perubahan itu. Salah satunya dengan meningkatkan upaya pengawasan terhadap anak-anak. “Jangan sampai terjebak pada pola interaksi sosial yang sudah berubah, tetapi kita belum siap,” tandasnya.

Sementara, tim dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) berangkat ke Pontianak untuk menindaklanjuti upaya yang dilakukan Dinas PPPA Kota Pontianak dan KPPAD. Juga untuk membesuk korban dan berkunjung ke sekolah para pelaku. Rencananya, Sabtu (13/4) Kementerian PPPA melakukan rapat koordinasi untuk penanganan lintas sektor.

Menteri PPPA, Yohana Yembise mengingatkan penanganan kasus itu tetap mengacu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. “Saya berharap kasus ini tetap dikawal sampai selesai dan menemukan jalan terbaik bagi semua pihak,” ujarnya.

Korban dan pelaku yang masih berusia anak, kata Yohana, harus didampingi ahli. Korban didampingi untuk proses trauma healing-nya. Sedangkan pelaku didampingi untuk pemulihan pola pikir atas tindakan yang telah dilakukan. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar