Meneliti Efek Rumput Laut dan Pemanasan Global, Nilai Ekonomis Tinggi, Mampu Ubah CO2 Jadi O2

Graciliaria memiliki daya serap karbon dioksida (CO2) 15 persen per siklus hidup (45 hari). Juga menjadi penyaring unsur hara yang masuk dalam ekosistem laut.

Laporan: EDWARD ADE SAPUTRA

SUHU bumi terus mengalami peningkatan. Semakin panas. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) yang ada di atmosfer yang menimbulkan efek rumah kaca (green house gas/GHG).

Beberapa referensi menunjukkan pada tahun 2013 suhu rata-rata permukaan bumi 14,6 derajat celcius. Dan tahun 2030 suhu permukaan bumi diprediksi naik 2,1 derajat celcius. Bahkan pada 2050 suhu kembali naik tiga derajat celcius.

Data lain juga menyebutkan Amerika Serikat sebagai penyumbang emisi CO2 terbesar. Mencapai 21,9 persen dari total emisi CO2 dunia pada 2004. Hal itu diikuti Tiongkok (17,4 persen) dan India (4,1 persen). Adapun Indonesia hanya menyumbang emisi 1,2% dari total emisi CO2 dunia.

Mengapa? Hal itu tidak terlepas dari rumput laut. Siapa sangka tanaman kecil seperti itu bisa menghambat peningkatan suhu bumi. Nur Indah Sari Arbit membeberkan dalam disertasinya. Dalam penelitiannya, ia menemukan rumput laut dapat mengurangi dampak pemanasan global

Tanaman rumput laut mampu menyerap CO2 yang banyak terlarut di laut dan mengubahnya menjadi O2 (oksigen). Proses fotosintesis. Selain itu penyerapan CO2 terlarut dalam air laut bisa menstabilkan kadar asam air laut. Di mana jika kadar asam terlalu tinggi bisa mempengaruhi ekosistem lainnya di laut.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi

Comment

Loading...