Pernah Selamatkan Jenderal M Jusuf

Kamis, 11 April 2019 - 10:49 WIB
TOKOH BESAR. KH Muhammad Ramli semasa hidup pernah bertemu dengan Presiden Ke-1 RI, Soekarno. (HANDOVER/FAJAR)

Ilmu agamanya cukup mumpuni. Bahkan sering kali menjadi penentu atas sebuah masalah yang membutuhkan status hukum syariat.

Oleh: Akbar Hamdan, Makassar

KH Muhammad Ramli pernah menjadi kadi di wilayah Kerajaan Luwu, Sulsel. Kadi merupakan jabatan tertinggi dalam keputusan tentang syariat.
Makanya, tak heran fatwa-fatwanya menjadi rujukan. Dia didengar. Nasihatnya dipatuhi. Apalagi, dia memang alumni luar negeri. Pernah mengecap pendidikan langsung di Arab Saudi.

Ramli juga pernah berkiprah di bidang politik. Pada 1955, dia diangkat sebagai anggota konstituante dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU). Dia diberi amanah untuk mengembangkan NU di Sulsel.
Bersama ulama lainnya, Ramli berkeliling hingga ke pelosok untuk menjaring aspirasi masyarakat. Kesempatan itu juga digunakannya untuk berdakwah dan mendidik umat.

Pada 4 Februari 1958, di tengah sidang konstituante di Gedung Asia Afrika Bandung, Ramli yang mewakili Fraksi NU mendapat serangan jantung. Wafat di tempat itu.
Jenazahnya diurus langsung oleh Asisten II (Operasi) Kodam VII Wirabuana, Andi Muhammad Jusuf Amir yang kelak dikenal sebagai Jenderal M Jusuf. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Bontoala, Makassar.

“Dari cerita ibu, bapak pernah menyelamatkan Jenderal Jusuf (sebelum berpangkat jenderal) dari kejaran musuh negara. Dia disembunyikan di rumah, di Jl Irian, depan Masjid Taqwa,” urai Prof Mansyur Ramli, putra KH Muhammad Ramli, kemarin.

Makanya, tak mengherankan Jenderal Jusuf begitu menghormati sosok ulama kharismatik itu. Termasuk ikut merasa kehilangan saat Ramli meninggal.
“Sejak saat itu (usai ditolong), bapak dan Jenderal Jusuf berkawan akrab. Makanya waktu bapak wafat, Jenderal Jusuf yang mengurus semuanya dari Bandung hingga ke Makassar,” sambuh Mansyur Ramli.

Kisah UMI

Sosok KH M Ramli juga menjadi tokoh utama di balik berdirinya Universitas Muslim Indonesia (UMI). Mansyur masih mengingat bagaimana ibunya seringkali bercerita tentang sekelumit perjuangan Ramli saat mendirikan kampus Islam swasta terbesar itu.

Yang paling dia ingat, ayahnya diceritakan sangat resah melihat timpangnya tingkat pendidikan masyarakat Sulsel dengan Jawa. Padahal, di Sulsel sangat banyak tenaga pengajar yang berkualitas.

KH M Ramli kemudian menyampaikan niatannya untuk membangun sekolah tinggi kepada para alim ulama, kalangan bangsawan, dan tokoh masyarakat setempat.
Usulannya pun mendapat dukungan. Terutama dari tiga raja, masing-masing Raja Luwu H Andi Jemma, Raja Gowa, Andi Ijo Karaeng Laloang dan Raja Bone Andi Mappanyukki, serta pemerintahan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.