Pimpinan UMI Hadiri Haul KH Ramly, Pejuang NU dan Pendiri UMI

Kamis, 11 April 2019 - 08:21 WIB

FAJAR.CO.ID — Haul para pejuang NU diadakan atas kerja sama antara PBNU dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Tampak hadir Rais ‘Aam PBNU, KH Miftakhul Akhyar; Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf; Sekjen PBNU, H Helmy Faishal Zaini; Wakil Ketua MPR RI, Muhaimin Iskandar; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir; dan Menteri Ketenagakerjaan, Hanif.

Hadir dari UMI, Ketua Pembina yang juga putra KH Muhammad Ramly, Prof Dr H Mansyur Ramly SE MSi, Ketua Pengurus Yayasan wakaf UMI, HM Mokhtar Noer Jaya SE MSi, Wakil Ketua Pendidikan YW UMI, Prof Dr Hj Masrurah Mokhtar MA, Sekretaris Pengurus Dr Ir Lambang Basri MT, dan pejabat lainnya. Pelaksnaan haul berlangsung di kantor PBNU Jakarta, Rabu, 10 April 2019.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua MPR RI, mengatakan, Haul di kalangan NU hal biasa. Namun haul malam ini memiliki keistimewaan dilaksanakan untuk para pejuang NU yang dalam hidupnya  berperan aktif di kancah nasional.

“Kadang kita tidak pernah ingat atas jasa beliau, karena itu malam ini kita hadir untuk mendoakan beliau secara berjamaah, insya Allah mendapatkan tempat yang layak di sisiNya,” ujarnya.

Pada Juli 2019, di Gedung MPR  yang memuat 7000 akan gelar haul pejuang NU. Para ulama masyahid diharapkan mengalir pahalanya.

294 ulama yang tercacat dalam backdrop telah berkiprah untuk kejayaan  NU. Diyakini masih banyak ulama para tokoh yang dalam hidupnya telah berjuang untuk NU, duta besar yang memperjuangkan NU.

Karena itu tidak hanya 294 tapi seluruh ulama, tokoh agama tokoh masyarakat yang telah berjuang untuk kejayaan NU. “Kita semua berdoa dalam cahaya di sisi Allah di surga berkumpul bersama,” tandasnya.

Rektor UMI, Prof. Dr H Basri Modding SE MSi, di sela-sela acara mengatakan kehadirannya dalam haul ini memenuhi undangan PBNU.

Salah seorang pendiri NU, almarhum almukarram KH Muh Muhammad Ramly juga Pendiri NU, ayahanda dari Prof Dr Mansyur Ramly SE Msi, Ketua Pembina Yayasan wakaf UMI menyampaikan bahwa kelahiran UMI berawal dari keprihatinan dan kegelisahan para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja di Sulawesi, khususnya di Makassar, karena belum adanya perguruan tinggi Islam ketika itu, sedang penduduknya mayoritas muslim.

Pada pertengahan tahun 1952, ide untuk mendirikan perguruan tinggi Islam sudah mulai bergulir, para tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja (pemerintah) di Sulawesi sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang bernama “Universitas Muslim Indonesia”.

Peresmian pendirian UMI dilakukan di Gubernuran Makassar pada tanggal 23 Juni 1954 bertepatan dengan 22 Syawal 1373 H, yang ditandai dengan penandatangan Azas Piagam Pendirian UMI oleh K.H. Muhammad Ramly (Dewan Mahaguru), La Ode Munarfa (Dewan Kurator), Sutan Muhammad Yusuf Samah (Badan Wakaf) dan Chalid Husain (Sekretaris).

UMI yang dibina oleh Yayasan Wakaf UMI dengan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah mengemban tugas melahirkan sumberdaya manusia yang berilmu amaliah beramal ilmiah dan berakhlakul karimah. (rls)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.