Bangun Kampus, lalu Berpulang

Jumat, 12 April 2019 - 07:38 WIB
TERUS DIKENANG. Foto kenangan KH Muhammad Ramli saat masih hidup. (HANDOVER/FAJAR)

Pada 18 Februari 1953, Yayasan Wakaf UMI resmi terbentuk. Kampus UMI pertama berdiri setahun setelahnya.

Oleh: Akbar Hamdan

Namun, KH Muhammad Ramli hanya bisa melihat Universitas Muslim Indonesia (UMI) beraktivitas selama satu tahun. Ia berpulang ke rahmatullah.

Dalam perjalanannya, UMI menghadapi banyak cobaan. Menurut Ketua Yayasan Wakaf UMI, HM Mokhtar Noer Jaya, hingga 30 tahun berdiri atau sampai 1984, jumlah mahasiswa UMI hanya 2.000-an orang.

“Tapi kami terus bekerja keras, membenahi semua bidang. Kami selalu menjadikan semangat mendidik KH Ramli sebagai cambuk untuk meningkatkan diri,” kata Mokhtar.
Belakangan, cahaya terang mereka temukan. Minat pendaftar makin tinggi. UMI lalu menjadi kampus swasta favorit dan disegani.

Kini, UMI sudah berkembang pesat. Alumninya sudah hampir 100.000-an orang. Angkatan 2018 sudah menembus 7000-an orang.
Rektor UMI, Prof Basri Modding menyebut UMI saat ini sudah kokoh sebagai universitas Islam swasta terbesar di Indonesia timur. Prestasi paling membanggakan adalah akreditasi A.

“Sekarang program studi terakreditasi A ada 17. Di periode kami ini dipersiapkan untuk akreditasi internasional. Selain itu, UMI sudah mempersiapkan diri untuk mahasiswa dari luar negeri. Tahun depan ada tujuh mahasiswa dari Palestina,” katanya.

Tahun depan, UMI sudah masuk ke periode aktualisasi yang berarti seluruh manajemen sudah berstandar ASEAN. Penerimaan MABA pun nantinya sistim daring dan digitalisasi.
“Setelah itu, kita memasuki periode implementasi. Ini sudah menuju ke World Class University,” tandasnya.

Prof Hj Masrurah Mokhtar, mantan Rektor UMI yang juga kemenakan KH M Ramli, juga punya memori tentang kiai ahli fikih ini. Ia masih kelas 1 SD waktu itu.

“Dan tidak pernah saya mendapatkan beliau lepas dari kitab kuning di pangkuannya. Mau di waktu senggang atau melayani masyarakat, pasti selalu ada kitab di dekatnya. Bagi kami, pengabdian beliau terhadap ilmu dan memberikan manfaatnya bagi kemaslahatan umat, itulah yang patut kita tiru,” urainya.

Jerih payah Ramli dalam membangun peradaban manusia di tanah kelahirannya menjadi memori dan teladan abadi. Pada Rabu malam lalu, PBNU serta MPR menggelar Haul 294 Ulama yang tidak saja dianggap berjasa untuk NU, tetapi untuk bangsa dan negara. Ramli ada di antaranya. Begitu juga dengan KH Haritsah, ulama kharismatik asal Sulsel.

Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar dalam sambutannya mengatakan, pada Juli nanti, Haul Akbar akan digelar di Gedung MPR-RI dengan mendatangkan 7.000 orang.
“Memang ada 294 ulama yang telah berkiprah untuk kejayaan NU. Tapi kami yakin masih banyak ulama yang dalam hidupnya telah berjuang untuk NU,” katanya.

Ketua Umum PBNU, Prof Said Agil Siradj mengakui ini pertama kalinya digelar haul untuk para ulama pejuang NU. “Insyaallah akan menjadi agenda setiap tahun,” ucapnya.

Acara ini dihadiri Rais ‘Aam PBNU, KH Miftakhul Akhyar, Katib ‘Aam PBNU, KH Yahya Cholil Tsaquf, Sekjen PBNU, H Helmy Faishal Zaini, Wakil Ketua MPR RI, Muhaimin Iskandar, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri.

Sementara dari UMI hadir Ketua Pembina yang juga putra KH Muhammad Ramli, Prof Dr H Mansyur Ramly, Ketua Pengurus Yayasan wakaf UMI, HM Mokhtar Noer Jaya, mantan Rektor UMI, Prof Masrurah Mokhtar, Rektor UMI Prof Dr H Basri Modding, serta jajaran Yayasan Wakaf maupun rektorat UMI. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.