Menkominfo Resmikan BTS dan Akses Internet BAKTI di Mentawai

Jumat, 12 April 2019 - 08:54 WIB

FAJAR.CO.ID, PADANG – Upaya pemerataan pembangunan Infrastruktur merupakan salah satu fokus Pemerintahan Joko Widodo sejak 2014. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur telekomunikasi, baik seluler maupun internet. Pemerintah pun akan terus membangun infrastruktur telekomunikasi di seluruh desa berpemukiman di Indonesia.

Pembangunan infrastruktur telekomunikasi ini dilakukan oleh
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemenkominfo. Dimana pembangunan prasarana telekomunikasi tersebut diprioritaskan di wilayah-wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) serta perbatasan yang secara finansial tidak menarik minat swasta untuk dikelola (financially not viable).

“Ada 133 daerah 3T, salah satunya Mentawai, Solok Selatan dan Pasaman Barat. Tahun ini insya allah selesai,”
ujar Rudiantara di Universitas Negeri Padang (UNP), Padang, Sumatera Barat, Kamis (11/4).

Hal ini kata pria yang akrab disapa Cief RA ini, merupakan bentuk kehadiran pemerintah untuk memastikan bahwa hak atas informasi melalui akses telekomunikasi dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia.

Untuk itu, Rudiantara meninjau sekaligus meresmikan Base Transceiver Station (BTS) serta Akses Internet di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang telah dibangun oleh BAKTI.

Peresmian ini dilakukan lewat teleconference dengan Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet yang didampingi Direktur Layanan Teknologi Informasi untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Danny Januar yang berada di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Matobe, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang disaksikan langsung bersama-sama oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, Rektor Universitas Negeri Padang Ganefri, Direktur Utama BAKTI Anang Latif serta ribuan mahasiswa dari Kampus UNP.

“Saya mengharapkan dengan adanya layanan internet dari BAKTI, para siswa dan masyarakat dapat mengembangkan diri dan meningkatkan nilai tambah melalui pemanfaatan aplikasi-aplikasi yang bersifat edukatif maupun untuk menunjang produktivitas,” terang Ruriantara.

Sebagai informasi, pembangunan akses internet di wilayah 3T ini telah dilakukan oleh Pemerintah sejak tahun 2015. Akses internet telah dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bagi siswa SMP dan SMA, salah satunya di Kabupaten Mentawai. Sampai saat ini, BTS dan Akses Internet BAKTI yang tersedia di Kabupaten Mentawai sudah mencapai 183 titik lokasi Akses Internet dan 33 titik lokasi BTS.

Pasalnya, penyediaan Infrastruktur perlu diimbangi dengan penguatan literasi masyarakat dan ekosistem digital, BAKTI juga mengiringinya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui aplikasi belajar Bahasa Inggris Online yakni BAHASO untuk para siswa SMA di Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai.

Inisiasi pengembangan SDM ini telah dilakukan BAKTI sejak 2018 dengan jumlah peserta mencapai 2.600 siswa yang dilaksanakan di lima kabupaten/kota yaitu Bima-Nusa Tenggara Barat, Sumba Timur-Nusa Tenggara Timur, Yogyakarta-DI Yogyakarta, dan Solok-Sumatera Barat.

“Pemerintah meyakini bahwa teknologi adalah enabler dari kekuatan sektor lainnya. Oleh karena itu, BAKTI ikut berpartisipasi dalam memperkuat sektor kesehatan melalui penyediaan jaringan internet untuk aplikasi HaloDoc serta demo perangkat Tele-CTG (cardiotography) di Desa Matobe,” kata Dirut BAKTI Anang Latif.

Dia menjelaskan, HaloDoc merupakan platform layanan kesehatan digital yang telah hadir sejak April 2016. Aplikasi HaloDoc dapat juga diakses melalui pada telepon genggam dan aplikasi ini memungkinkan penggunanya berkomunikasi langsung ke lebih dari 20 ribu dokter berlisensi di Indonesia, kapanpun, dan di manapun selama terhubung dengan internet.
Ketersediaan jaringan internet yang cepat dan handal menjadi prasyarat untuk pengembangan dan pemanfaatan konten, aplikasi, maupun platform yang diperlukan untuk meningkatkan
produktivitas dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Khusus untuk Mentawai yang rawan
bencana alam, tambah Anang, kehadiran jaringan telekomunikasi diharapkan menjadi salah satu mitigasi risiko dalam mempercepat diseminasi infomasi mengenai kebencanaan, sehingga dapat mengantisipasi dan mengurangi dampak-dampak yang lebih serius.

“BAKTI berkomitmen untuk terus melayani masyarakat di wilayah 3T melalui kombinasi teknologi telekomunikasi sehingga lembaga-lembaga penting seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, dan kantor kepolisian serta kantor komando pertahanan dan keamanan dapat memperoleh internet cepat,” paparnya

Dengan adanya internet dan aplikasi yang dijalankan di atasnya, lanjut Anang, banyak kemudahan dimungkinkan, misalnya akses kepada layanan kesehatan akan semakin cepat.

“Dengan adanya Tele-CTG yang merupakan layanan yang menyajikan alat CTG yang dikemas dengan teknologi digital, akan mempermudah penggunaan dan distribusi CTG sehingga harga untuk penyediaan perangkat tersebut dapat
ditekan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.