Paus Fransiskus Cium Kaki Pemimpin Sudan Selatan

Jumat, 12 April 2019 - 14:48 WIB

FAJAR.CO.ID–Paus Fransiskus melakukan hal sangat mengejutkan banyak orang saat bertemu para pemimpin Sudan Selatan. Dia langsung berlutut lalu mencium kaki para pemimpin Sudan Selatan yang sebelumnya berperang, Kamis (11/4). Paus meminta keduanya tak kembali melakukan perang saudara yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Dia memohon kepada Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir dan mantan Wakil Presiden Sudan Selatan, Riek Machar agar tak melakukan perang saudara lagi. Riek Machar menjadi pemimpin pemberontak usai dipecat jadi wapres oleh Salva Kiir.

Baik Kiir maupun Machar datang ke Vatikan untuk menghormati gencatan senjata yang mereka tandatangani. Keduanya juga berkomitmen membentuk pemerintah persatuan bulan depan.

“Saya memintamu sebagai saudara untuk tetap menjaga perdamaian. Saya memintamu dengan sepenuh hati, mari kita maju ke depan. Akan ada banyak masalah tetapi mereka tidak akan menghalangi kita. Selesaikan masalahmu,” kata Paus dalam sambutannya dilansir dari Reuters.

Para pemimpin Sudan Selatan itu tampak terpana ketika Paus, 82, yang menderita sakit kaki kronis, dibantu para asitsennya berlutut di depan mereka. Dia dengan susah payah mencium sepatu dari dua pemimpin Sudan Selatan yang berseberangan itu.

“Akan ada pergumulan, perselisihan di antara kamu, tetapi pertahankan di dalammu, di dalam kantor, untuk berbicara,” kata Paus dalam bahasa Italia dan ajudan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

“Tapi di depan orang-orang, kalian berpegangan tangan, bersatu. Jadi, sebagai warga negara biasa, kamu akan menjadi bapak bangsa,” ujar Paus kepada keduanya.

Sudan sebagian besar beragama Islam. Sudan Selatan yang sebagian besar beragama Kristen berperang selama beberapa dekade sebelum Sudan Selatan merdeka pada 2011. Setelah itu, Sudan Selatan terjun ke dalam perang saudara dua tahun kemudian setelah Kiir memecat Machar dari kursi wapres.

Sekitar 400.000 orang tewas dan lebih dari sepertiga dari 12 juta orang di negara itu tumbang. Ini memicu krisis pengungsi terburuk di Afrika sejak genosida Rwanda 1994.

Dalam pidatonya, Paus mengatakan rakyat Sudan Selatan kelelahan akibat perang dan para pemimpin memiliki tugas untuk membangun negara mereka dalam keadilan. Dia juga mengulangi keinginannya untuk mengunjungi negara itu bersama dengan para pemimpin agama lainnya untuk memperkuat perdamaian. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *