Jelang Masa Tenang, Polri Kategorikan Status Keamanan Siaga 1

Sabtu, 13 April 2019 - 12:52 WIB
Sejumlah narasumber diskusi bertajuk 'Pemilu Asik Jangan Golput' di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4). (Sabik Aji Taufan/JPC)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan jaminan pemilu 2019 akan berjalan aman. Di hari terakhir kampanye terbuka ini, aparat penegak hukum menggolongkan tingkat keamanan Indonesia pada siaga 1.

“Kalau statusnya siaga 1 lah, semua dalam kondisi siap siaga. Karena besok masuk masa tenang,” ujar Dedi dalam diskusi bertajuk ‘Pemilu Asik Jangan Golput’ di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4).

Meski begitu, Dedi memastikan sampai saat ini belum ada terlihat potensi gangguan yang muncul pada saat pemilu berlangsung. Namun, Polri dibantu TNI dan aparat terkait tetap waspada mencegah segala potensi konflik yang muncul.

“Dari hasil deteksi intelijen kita, masih belum ada (ancaman). Tapi untuk kewaspadaan untuk tingkat polsek, polres, polda tingkat pelaksanaan, tingkat kewaspadaan tetap siaga 1. Kita mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin terjadi,” imbuhnya.

Di sisi lain, penyandang bintang satu Polri ini mengatakan, aparat telah membagi Indonesia pada 7 zona besar dalam upaya menciptakan rasa aman terhadap rakyat. Rinciannya, Jawa 2 zona, Sumatera 2 zona, zona Kalimantan, Zona Sulawesi, dan zona Indonesia Timur meliputi Maluku, Maluku Utara dan Papua.

“Di tiap zona kita punya pasukan cadangan, agar setiap potensi konflik siap memback up, memitigasi dan mencegah potensi konflik terjadi,” tambahnya.

Sementara itu, selama masa tenang pemilu berlangsung, Dedi meminta masyarakat agar tetap tenang. Selain itu para pemilih harus menyaring segala informasi yang diterima.

Hal itu agar para pemilih terhindar dari kabar hoax, atau berbau fitnah. Selain itu, dengan segala jaminan keamanan yang diberikan aparat, masyarakat diharapkan tidak golput dan tidak takut mencoblos ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Prinsipnya kita menghimbau masyarakat supaya tidak mudah terpengaruh terhadap informasi-informasi sumbernya yang tidak kredibel. Sumbernya yang tidak bisa dikonfirmasi,” pungkas Dedi.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *