“Karena Saya Nasrani…!”

Sabtu, 13 April 2019 - 07:18 WIB
M. Qasim Mathar. (ist)

Oleh: M. Qasim Mathar

Insyaallah, Rabu 17 April 2019, petang hari, kita sudah bisa mengetahui pemenang pemilu capres versi hasil penghitungan cepat (quick qount). Petang hari itu juga kita sudah mengetahui capres yang kalah. Siapa yang menang dan siapa yang kalah adalah peristiwa penting yang ditunggu oleh segenap rakyat dari suatu negara yang berpemilu. Harus dicatat, petang hari itu baru penyampaian hasil pemilu menurut penghitungan cepat yang dilakukan oleh lembaga survei yang mendapat izin untuk melakukannya. Jadi, bukan hasil resmi. Hasil resmi pemilu akan disampaikan oleh KPU pada hari yang sudah ditetapkan.

Karena hanya dua pasang capres yang akan dipilih, menunggu peristiwa penting itu siapa yang menang dan siapa yang kalah, membuat pendukung masing-masing dalam suasana batin yang bercampur-campur. Menang,… kalah,… Kalah,… menang,… Barangkali tidak terlalu banyak dari antara pendukung itu yang bisa tetap tenang, karena merasa bahwa pemilu ini, toh, pesta demokrasi. Harus kita lewati sekali lima tahun. Kalau menang, kita bersyukur. Kalau kalah, kita wajib mendukung yang menang. Lha, kok begitu…?!

Oke, pemilu itu memang pesta demokrasi. Namun, harus menang, dong. Tidak boleh tidak. Capres kami wajib menang. Tidak boleh tidak. Kami pantang kalah. Kalau kalah, tunggu dulu,… Apalagi kalau kekalahan itu hanya dinyatakan oleh versi penghitungan cepat (quick qount). Kalau perlu, dibantah dan ditolak! Bahkan, juga kalau pengumuman resmi KPU sama (tidak berbeda) dengan hasil penghitungan cepat, maka tidak segera kami terima. Lha, kok, begitu…?!
Apakah pesta demokrasi ini tidak kita jadikan moment untuk terus memperbaiki budaya politik kita di tengah luapan dan limbah hoaks di semua ruang wacana publik, khususnya di medsos. Pasti berat melakukannya. Hoaks bukan hanya dari kalangan bawah (awam). Tetapi juga keluar dari mulut kalangan atas (elite).

Nyaris tidak ada contoh yang bisa ditiru, seseorang, termasuk elite, yang (berani) berkata yang benar, bukan hoaks. Nyaris, berarti masih ada. Nyaris, berarti tidak semua. Ya, masih ada di kepungan bukit sampah hoaks, seseorang bicara yang benar. Walau dia, karena itu, lalu diejek, diremehkan.

Saya menunggu seseorang yang tetap bersikap dan berkata yang benar. Yang menjauhkan diri dari suasana hoaks. Hoaks, yang sejak akhir tahun 2016, telah menyuburkan kebencian dan permusuhan dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Ya, sudah sekitar dua setengah tahun! Saya menunggu seseorang yang mengikuti semua agenda pemilu ini seperti seseorang yang beribadah di masjid, gereja, kuil, vihara, atau rumah peribadatan. Khusuk. Ya, saya ingin pemilu ini ibarat ibadah, dilakukan dengan khusuk.

Khusuk. Tidak tergoda menodai pemilu dengan hoaks. Tidak memakai hoaks untuk menang pemilu. Yang menerima dengan khusuk kemenangan dan kekalahan. Yang tidak memiliki suasana batin siap mengejek yang kalah, kalau menang. Atau, siap berontak, kalau kalah. Lha, kok, begitu…?!
Iya, yang bisa beribadah pemilu dengan khusuk. Kekhusukan yang dikenal dalam semua agama. Adakah yang demikian? Ada. Yaitu, yang berkata: “Karena saya Nasrani… Karena saya Muslim… Karena saya Hindu… Karena saya Budha… Karena saya Kongfutsu…!” Mereka inilah yang saya tunggu! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.