Peradilan di Media Sosial

Sabtu, 13 April 2019 - 07:12 WIB
M. Ghufran H. Kordi K. (dok)

Oleh: M. Ghufran H. Kordi K. (Pengamat Sosial)

Kekerasan terhadap anak (< 18 tahun) dan perempuan bukanlah sesuatu yang baru. Di negeri ini, kekerasan terhadap anak dan perempuan boleh dibilang sangat subur.

Lihatlah data yang dirilis oleh berbagai lembaga setiap tahunnya. Angka-angkanya terus meningkat, walaupun upaya untuk mencegahnya juga terus dilakukan dan tidak kalah banyak.

Angka kekerasan terhadap anak dan perempuan yang terus meningkat tidak selalu menunjukkan data sebenarnya, karena data yang tercatat adalah data yang dilaporkan atau tercatat. Artinya, data yang tidak terlaporkan mungkin lebih banyak, karena hasil-hasil riset yang dilakukan secara terbatas, selalu menunjukkan data yang didapatkan di lapangan selalu lebih tinggi daripada data yang terlaporkan.

Data yang meningkat setiap tahun menunjukkan adanya peningkatan kesadaran publik, karena masyarakat yang melaporkan kasus kekerasan semakin bertambah, sehingga semakin banyak kasus terungkap. Apalagi mayoritas pelaku kekerasan adalah orang-orang dekat atau orang yang mengenal korban.
Di era internet dan maraknya media sosial (medsos), makin banyak kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan dilaporkan. Medsos menjadi platform baru dalam perlindungan perempuan dan anak, sekaligus penyelamatan dan penanganan korban.

Anak, pelaku juga korban
Namun, pengguna medsos juga perlu pengetahuan mengenai perlindungan perempuan dan anak. Audrey (14 tahun) yang menjadi korban kekerasan (pengeroyokan/penganiayaan) adalah seorang anak dan seorang perempuan. Demikian juga pelaku kekerasan, diduga 12 orang, semuanya perempuan dan masih anak.

Sebagai korban, Audrey harus mendapatkan penanganan cepat dan perlindungan, termasuk penegakan hukum terhadap pelaku secara berkeadilan. Namun, harus diingat dan diketahui bahwa pelaku kekerasan terhadap Audrey, juga adalah anak. Dalam perspektif perlindungan anak, mereka juga adalah korban, bisa korban dari keluarga (kegagalan pengasuhan), sekolah (kegagalan pendidikan), lingkungan sosial, sinetron televisi, medsos, dan sebagainya. Mereka menjadi pelaku kekerasan, karena belajar dari orang-orang dewasa, bukan turun dari langit.

Karena itu, tingkah pelaku yang memposting kelakuannya, yang memancing amarah netizen (warganet), adalah tingkah anak-anak. Sekali lagi, mereka adalah anak dan belajar dari orang dewasa! Kita lihat, pencuri kelas kakap alias koruptor yang menggasak uang negara, yang juga pejabat negara dan rajin beribadah, pun masih senyum-senyum, melambaikan tangan, ketika digaruk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tanpa rasa malu dan rasa bersalah.

Peradilan Anak
Dalam sistem peradilan anak, Audrey dan pelaku adalah anak berhadapan dengan hukum, yakni anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana (UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak).

Sebagai anak berhadapan dengan hukum, mereka harus dihindarkan dari publikasi atas identitasnya. Sementara pelaku akan diajukan di muka pengadilan anak yang objektif, tidak memihak, dan dalam sidang yang tertutup untuk umum (Undang-Undang 23/2002, diubah UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak).
Pelaku masih dalam proses di kepolisian, sayangnya mereka telah diadili secara membabi buta di medsos. Ungkapan-ungkapan yang tidak pantas terus berseliweran dan dibagikan di medsos. Netizen pun menjadi hakim yang menjatuhkan vonis berdasarkan emosi dan pengetahuan yang minimal di medsos. Netizen telah memutuskan dan menetapkan, agar pelaku dijatuhi hukuman ini dan itu.

Netizen, manusia berjari
Simpati dan dukungan terhadap Audrey sebagai korban kekerasan adalah sesuatu harus dilakukan untuk menguatkan dan memulihkannya. Akan tetapi, tidak mesti dilakukan dengan mencaci, menindas, merundung (bullying) mereka yang menjadi pelaku.
Pelaku juga adalah korban yang harus dipulihkan, agar mereka kembali menjadi anak-anak yang baik. Bila kita terus-menerus mencaci, menindas, merundung, berarti kita akan menjebak dan menjerumuskan mereka ke jalan yang buruk. Kita tidak ingin mereka yang masih anak-akan ini menjadi penjahat atau bunuh diri.

Karena itu, netizen harus berpikir panjang, ketika menulis status atau membagikan berbagai informasi di medsos. Kasus Audrey dan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, apalagi pelakunya adalah perempuan dan anak, tidak selalu harus menjadi konsumsi publik.
Kita sering salah menilai bahwa, dengan menjadikannya viral, harapannya menekan aparat untuk penanganan segera. Mungkin tujuan ini tercapai, tetapi tanpa kita sadari, viral juga membuat bencana baru bagi korban dan pelaku. Ini masalahnya, ketika kita hanya menjadi Manusia Berjari. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *